Perbaikan lubang di jalur utama menjadi target mendesak Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Di sisi lain, pengawasan ketat terhadap stok pangan dilakukan guna mencegah spekulasi harga di tengah lonjakan permintaan Lebaran.
SEKAYU, NUSALY – Bagi para pemudik yang kerap melintasi jalur tengah Sumatera, Musi Banyuasin (Muba) adalah titik lelah sekaligus titik krusial. Jalur ini bukan sekadar aspal, melainkan urat nadi yang menghubungkan Lampung hingga Medan.
Namun, menjelang Lebaran 1447 Hijriah, tantangan lama kembali muncul: lubang jalan yang mengancam keselamatan dan harga pasar yang mulai merangkak naik.
Pemerintah Kabupaten Muba kini dipaksa berpacu dengan waktu untuk memastikan wilayah mereka siap menerima gelombang pemudik dan menjaga stabilitas ekonomi warga lokal.
Kesiapsiagaan ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi dan Kesiapsiagaan Idul Fitri yang diikuti jajaran Pemkab Muba, Senin (9/3/2026). Instruksi dari pemerintah pusat sudah jelas: daerah tidak boleh hanya menjadi penonton arus mudik. Mereka harus menjadi pelayan yang memastikan perjalanan warga lancar dan urusan perut masyarakat tetap aman dari gangguan inflasi.
Benahi Jalan
Kondisi infrastruktur jalan di Muba selalu menjadi rapor merah yang paling disorot setiap tahun. Jalur Lintas Tengah (Jalinteng) yang membelah kabupaten ini memikul beban kendaraan logistik berat yang tak henti-henti.
Dampaknya, kerusakan jalan menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Dalam arahan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, lubang-lubang di jalur utama mudik harus segera “dirapikan” sebelum puncak arus mudik tiba.
Bagi Bupati Muba H M Toha Tohet dan Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen, instruksi ini adalah perintah eksekusi lapangan. Asisten II Setda Muba, Alva Elan, menekankan bahwa fokus dinas terkait kini adalah menutup lubang-lubang yang bisa memicu kemacetan panjang atau kecelakaan fatal.
Perbaikan ini krusial, mengingat karakteristik jalan di Muba yang memiliki banyak tikungan tajam dan turunan yang menuntut kondisi aspal yang prima. Kecepatan pengerjaan di sisa waktu sebelum Idul Fitri akan menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah daerah dalam melayani publik.
Awasi Perairan
Namun, Musi Banyuasin bukan hanya soal daratan. Kabupaten ini memiliki garis sungai yang panjang dengan mobilitas warga perairan yang tinggi.
Transportasi sungai melalui kapal cepat (speedboat) dan tongkang penyeberangan sering kali luput dari perhatian pusat, padahal risikonya tak kalah besar. Pengawasan di pelabuhan rakyat dan dermaga penyeberangan kini diperketat untuk mencegah tragedi tahunan: kelebihan muatan.
Disiplin standar operasional prosedur (SOP) menjadi harga mati. Aparat di lapangan diminta tidak berkompromi dengan pemilik jasa transportasi air yang nekat mengangkut penumpang melampaui kapasitas demi mengejar setoran Lebaran.
Keselamatan di perairan Musi harus menjadi prioritas, terutama di titik-titik penyeberangan yang akan menjadi jalur alternatif bagi warga yang ingin menghindari kemacetan di jalan raya.
Stabilkan Harga
Di balik hiruk-pikuk mudik, ada keresahan lain yang menghantui ibu-ibu di pasar Sekayu hingga Babat Toman: harga kebutuhan pokok. Lonjakan harga cabai, daging, dan beras seolah sudah menjadi “tradisi buruk” menjelang Idul Fitri.
Pemkab Muba melalui Dinas Ketahanan Pangan yang dipimpin Apriyadi Aziz kini harus turun ke pasar-pasar tradisional untuk memastikan stok tetap tersedia dan harga tidak dipermainkan oleh spekulan.
Ancaman inflasi di Muba bukan isapan jempol. Sebagai daerah yang sebagian besar kebutuhan pangannya dipasok dari luar wilayah, gangguan distribusi sekecil apa pun di jalur mudik akan langsung berdampak pada kenaikan harga di pasar lokal.
Operasi pasar murah kini disiapkan sebagai “senjata terakhir” jika harga mulai tak terkendali. Targetnya jelas, daya beli warga Muba tidak boleh rontok hanya karena perayaan hari besar.
Siagakan Posko
Terakhir, urusan keamanan dan kenyamanan pemudik diwujudkan melalui pembangunan pos siaga di titik-titik strategis. Posko ini bukan sekadar tempat berteduh personel, melainkan pusat layanan yang menyediakan fasilitas kesehatan darurat dan tempat istirahat bagi pengemudi yang kelelahan.
Mengingat jalur Muba yang panjang dan sering kali sepi di beberapa titik, kehadiran posko keamanan gabungan bersama jajaran Forkopimda akan memberikan rasa aman dari potensi tindak kriminal jalanan.
Termasuk dalam pengawasan adalah objek-objek wisata lokal yang diperkirakan akan diserbu warga saat libur Lebaran. Lokasi yang memiliki kerawanan massa harus dipastikan memiliki pengaturan arus masuk dan keluar yang memadai agar tidak terjadi penumpukan yang membahayakan.
Kesiapan Pemkab Muba di bawah kepemimpinan Bupati Toha Tohet ini adalah ujian nyata bagi birokrasi daerah. Keberhasilan mereka bukan diukur dari berapa banyak rapat yang diikuti, melainkan dari berapa sedikit lubang jalan yang tersisa dan seberapa stabil harga daging di pasar saat malam takbiran nanti. Masyarakat Muba dan para pemudik kini menanti bukti nyata dari janji kesiapsiagaan tersebut. (wwn)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





