Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab MUBA

Banner Ramdan DPRD OKI

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan
Kamtibmas

Nyawa Pelajar Melayang di Palagan Jalan Perintis Kemerdekaan Palembang

×

Nyawa Pelajar Melayang di Palagan Jalan Perintis Kemerdekaan Palembang

Sebarkan artikel ini
Nyawa Pelajar Melayang di Palagan Jalan Perintis Kemerdekaan Palembang
Foto: Ilustrasi dibuat dengan AI. Dok. Nusaly.com

Aksi tawuran antarkelompok pemuda di jantung Kota Palembang kembali memakan korban jiwa. Ironisnya, bentrokan berdarah yang menewaskan seorang pemuda berusia 20 tahun yang masih berstatus sebagai pelajar ini pecah tepat setelah aparat kepolisian membubarkan massa, mengungkap celah pengawasan keamanan di jam rawan dini hari.

PALEMBANG, NUSALY – Aspal di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, kembali bersimbah darah pada Sabtu (7/3/2026) dini hari. Di depan Kantor Bulog, seorang pemuda berinisial RA Gusti Rangga (20) harus meregang nyawa setelah terlibat dalam bentrokan antarkelompok yang kian beringas. Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa jalanan kota masih menjadi panggung kekerasan mematikan bagi generasi muda yang kehilangan arah.

Korban yang tercatat sebagai warga Jalan Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah dilarikan ke RSUP Dr Mohammad Hoesin (RSMH). Dua luka tusuk serius di perut bagian kiri atas menjadi saksi bisu betapa brutalnya serangan yang diterima korban. Upaya medis tak mampu menandingi parahnya luka yang diderita pemuda yang statusnya masih tercatat sebagai pelajar tersebut.

Peristiwa ini bermula sekira pukul 03.00 WIB. Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, CY (21) dan MRP (20), kelompok pemuda dari daerah 1 Ilir dilaporkan mendatangi lokasi untuk menemui kelompok lawan yang diduga gabungan dari kawasan Boom Baru. Yang memilukan, bentrokan ini terjadi dalam skema “kucing-kucingan” dengan aparat penegak hukum.

Celah Setelah Polisi Pergi

Fakta di lapangan menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Petugas dari Polsek Ilir Timur II sebenarnya telah mendatangi lokasi dan berhasil membubarkan kerumunan massa sebelum bentrokan terjadi. Namun, otoritas aparat tampaknya hanya dianggap sebagai gangguan sementara. Begitu sirene polisi menjauh dan petugas meninggalkan lokasi, kedua kelompok kembali bertemu untuk menggelar “tawuran jilid kedua”.

“Awalnya petugas sudah datang dan membubarkan massa. Namun, setelah polisi pergi, kedua kelompok kembali bertemu dan bentrokan pecah,” ujar seorang saksi di lokasi kejadian. Saat petugas kembali untuk kedua kalinya guna membubarkan aksi susulan, massa kocar-kacir menyelamatkan diri ke berbagai arah. Di saat itulah, rekan-rekan korban menemukan Gusti Rangga sudah terkapar bersimbah darah di aspal depan Kantor Bulog.

Fenomena tawuran susulan ini menunjukkan bahwa pola pembubaran massa secara konvensional tanpa pengawasan menetap di titik rawan mulai kehilangan efektivitasnya. Para pelaku tawuran kini lebih berani dan terorganisir, menunggu celah sekecil apa pun untuk menuntaskan dendam atau sekadar mencari pengakuan identitas melalui kekerasan jalanan.

Koordinasi dan Alarm bagi Orang Tua

Hingga berita ini diturunkan, jajaran Polrestabes Palembang maupun Polsek Ilir Timur II belum memberikan pernyataan resmi terkait kronologi mendalam dan pengejaran para pelaku. Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Wijaya Mukmin menyatakan pihaknya masih melakukan koordinasi intensif untuk mengumpulkan data lengkap mengenai insiden maut tersebut.

“Saya belum dapat info lengkapnya, nanti saya tanya dan minta datanya sama Kasi Humas Polrestabes Palembang,” ujar Nandang saat dikonfirmasi pada Sabtu siang. Minimnya informasi resmi di jam-jam awal pascakejadian sering kali menjadi hambatan dalam meredam spekulasi di masyarakat, sekaligus memperlambat respons terhadap potensi tawuran balasan yang mungkin pecah di lokasi berbeda.

Tragedi di Jalan Perintis Kemerdekaan ini harus menjadi alarm keras, tidak hanya bagi kepolisian, tetapi terutama bagi para orang tua di Palembang. Kontrol terhadap aktivitas anak pada jam-jam rawan malam hari menjadi harga mati untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya. Ruang publik yang seharusnya aman bagi warga, kini kerap berubah menjadi arena “gladiator” jalanan yang hanya menyisakan duka bagi keluarga dan corengan hitam bagi citra kota.

Kota Palembang kini dihadapkan pada tantangan besar untuk memutus rantai kekerasan ini. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembacokan serta patroli yang lebih presisi di titik-titik rawan menjadi kebutuhan mendesak. Jika tidak, aspal di depan Kantor Bulog dan titik-titik strategis lainnya hanya akan terus menjadi saksi bisu dari nyawa-nyawa muda yang terenggut secara sia-sia di ujung tajam senjata tajam. (suherman)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!