OKI, NUSALY — Debit air yang sebelumnya merendam pemukiman warga setinggi dada orang dewasa di Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dilaporkan mulai surut signifikan pada Kamis (15/1/2026). Namun, surutnya genangan justru menyingkap tantangan baru yang lebih kompleks: ancaman epidemi penyakit dan bayang-bayang gagal panen masal bagi ratusan petani.
Bupati OKI, H. Muchendi, saat melakukan inspeksi mendalam di Desa Cahya Tani, menggarisbawahi bahwa fase pasca-genangan sering kali menjadi periode yang lebih mematikan jika tidak ditangani dengan presisi. Ia secara tegas menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk mengubah pola pelayanan dari statis menjadi dinamis.
“Jangan menunggu warga datang ke Puskesmas dalam kondisi parah. Tenaga medis harus hadir di depan pintu rumah warga untuk melakukan deteksi dini, terutama terhadap penyakit kulit dan infeksi yang dipicu oleh sanitasi buruk sisa banjir,” ujar Muchendi.
Memutus Rantai Penyakit di Wilayah Terisolasi
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan sanitasi di desa-desa seperti Tebing Suluh dan Sumber Makmur membutuhkan waktu. Lumpur sisa banjir yang bercampur sampah menjadi inkubator potensial bagi bakteri. Keluhan warga mengenai gatal-gatal dan gangguan pernapasan mulai bermunculan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Merespons hal ini, Pemkab OKI mengerahkan unit medis keliling untuk menyediakan obat-obatan dan layanan pemeriksaan dasar secara gratis di posko-posko desa. Kehadiran negara di tingkat akar rumput ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit pascabencana.
Penyelamatan Sektor Pangan dan Kompensasi Puso
Selain aspek kesehatan, mata pencaharian warga menjadi perhatian utama dalam agenda pemulihan ini. Sektor pertanian di Lempuing, yang merupakan lumbung pangan daerah, mengalami hantaman hebat. Sedikitnya 595 hektare persawahan dilaporkan terendam, yang menempatkan petani pada risiko kerugian finansial total.
Bupati Muchendi memberikan jaminan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan petani berjuang sendirian. Bagi lahan yang terverifikasi mengalami puso atau gagal panen, Pemkab OKI menyiapkan bantuan benih padi untuk musim tanam mendatang.
“Kami menyadari bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi warga di sini. Bantuan benih ini adalah langkah darurat agar rantai produksi pangan tidak terputus dan petani bisa segera pulih secara ekonomi,” tegasnya.

Evaluasi Infrastruktur dan Mitigasi Jangka Panjang
Meski pengungsi di SDN 1 Sumber Makmur telah kembali ke rumah, kerusakan fasilitas publik tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Jembatan gantung yang menjadi urat nadi akses ke persawahan serta kerusakan fasilitas elektronik di sejumlah sekolah memerlukan langkah perbaikan bertahap.
Kepala BPBD OKI, Listiadi Martin, mengingatkan bahwa meskipun banjir mereda, kewaspadaan terhadap hujan susulan tidak boleh kendor. Transformasi penanganan banjir di OKI kini diarahkan pada penguatan infrastruktur tanggap bencana yang lebih resilien, sembari terus melakukan pendataan akurat terkait kerusakan fisik guna memastikan alokasi anggaran yang tepat sasaran.
Dengan langkah terintegrasi antara kesehatan, perlindungan ekonomi petani, dan pemulihan infrastruktur, Pemkab OKI berupaya memastikan transisi pascabencana ini tidak meninggalkan residu kemiskinan dan masalah kesehatan bagi warganya.
(puputzch)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.







