Scroll untuk baca artikel
Banner Idul Adha Pemprov Sumsel

Banner Bijak Digital Pemkab MUBA

Muba Maju Lebih Cepat

Pemerintah Kecamatan dan Swasta Turun Tangan Akhiri Penderitaan Petani Sawit di Muara Bahar yang Bertahun-tahun Terjebak Jalan Rusak

×

Pemerintah Kecamatan dan Swasta Turun Tangan Akhiri Penderitaan Petani Sawit di Muara Bahar yang Bertahun-tahun Terjebak Jalan Rusak

Sebarkan artikel ini
Pemerintah Kecamatan dan Swasta Turun Tangan Akhiri Penderitaan Petani Sawit di Muara Bahar yang Bertahun-tahun Terjebak Jalan Rusak
Pemerintah Kecamatan Bayung Lencir bersama pihak swasta turun tangan merombak jalur logistik sawit sepanjang dua kilometer yang menahun rusak parah di Desa Muara Bahar. Dok. Diskominfo Muba

Perbaikan jalur sepanjang dua kilometer di Bayung Lencir memangkas mata rantai kerugian ekonomi petani mandiri akibat amblasan truk logistik hasil bumi

BAYUNG LENCIR, NUSALY – Penderitaan panjang para petani kelapa sawit mandiri di kawasan pedalaman Desa Muara Bahar Kecamatan Bayung Lencir akhirnya menemui titik terang.

Langkah taktis jajaran pemerintah kecamatan yang menggandeng pihak korporasi swasta untuk turun tangan memperbaiki jalan rusak sepanjang dua kilometer dinilai sukses memulihkan urat nadi perekonomian warga yang selama ini lumpuh akibat kubangan lumpur pekat.

Aksi tanggap darurat di sektor infrastruktur dasar ini merupakan tindak lanjut dari instruksi lisan maupun tertulis Bupati Musi Banyuasin (Muba), HM Toha Tohet SH. Jajaran dinas dan kewilayahan diminta bergerak cepat tanpa menunda waktu guna mengentaskan kemacetan logistik yang kerap mencekik pendapatan para petani di tingkat tapak.

Camat Bayung Lencir, Zukar SKM MSi, menegaskan bahwa penanganan kerusakan jalan menuju RT 03 Desa Muara Bahar ini sengaja dieksekusi melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Kolaborasi ini sengaja ditempuh demi memotong panjangnya alur birokrasi penganggaran daerah yang sering kali baru bisa terealisasi pada tahun anggaran berikutnya.

”Perbaikan jalan menuju RT 03 Desa Muara Bahar ini merupakan hasil kolaborasi nyata antara Pemerintah Kecamatan Bayung Lencir, pihak perusahaan, Pemerintah Desa Muara Bahar, dan masyarakat. Sinergi ini menjadi bukti bahwa pembangunan dapat berjalan lebih cepat ketika seluruh elemen bersatu,” ujar Zukar saat memberikan keterangan resmi di sela peninjauan proyek lapangan, Kamis (4/6/2026).

Menyelamatkan hasil keringat petani dari kubangan lumpur

Selama bertahun-tahun, bentang jalan tanah sepanjang dua kilometer tersebut menjadi momok utama yang merugikan masyarakat. Ketika musim hujan tiba, jalur ini berubah menjadi kubangan bubur lumpur sedalam lutut orang dewasa yang kerap menjebak truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit.

Akibat kendaraan yang ambles hingga berhari-hari, buah sawit hasil panen petani sering kali membusuk di jalan, yang secara otomatis meruntuhkan harga jual di tingkat pabrik kelapa sawit dan memicu kerugian finansial yang masif bagi keluarga petani.

Guna mengakhiri rantai penderitaan tersebut, operasi pemulihan dilakukan secara maraton selama lima hari kalender. Dengan sokongan armada dari pihak swasta, dua unit alat berat berkapasitas besar dikerahkan untuk mengupas tanah jenuh dan melakukan rekonstruksi badan jalan. Pengerasan struktur permukaan tanah kemudian diperkuat secara masif melalui hamparan 90 meter kubik batu koral.

Zukar menambahkan, pulihnya akses transportasi ini tidak sekadar memperlancar sirkulasi truk pengangkut komoditas perkebunan, melainkan juga mengembalikan hak mobilitas dasar anak-anak sekolah dan mempermudah akses ambulans kedaruratan medis.

Model intervensi taktis ini diharapkan memicu kesadaran kolektif bagi dunia usaha di Musi Banyuasin untuk lebih aktif turun tangan mendampingi pembangunan ruang publik di sekitar wilayah operasional mereka.

Hitungan teknis dan kalkulasi logistik pemulihan jalan desa

Secara teknis, akselerasi pemulihan urat nadi perekonomian di RT 03 Desa Muara Bahar ini bertumpu pada kalkulasi logistik yang matang dan eksekusi yang presisi di lapangan.

Bentang jalan sepanjang dua kilometer yang semula dipenuhi kubangan jenuh air dikupas dan dikondisikan ulang menggunakan sokongan dua unit alat berat berupa ekskavator dan kompaktor pengeras tanah milik perusahaan swasta setempat.

Tidak main-main, guna memastikan struktur jalan baru tersebut tahan terhadap gerusan air hujan dan beban berat truk pengangkut hasil bumi, tim gabungan menggelontorkan sedikitnya 90 meter kubik batu koral berkualitas tinggi sebagai lapisan pengeras utama.

Seluruh proses rekonstruksi fisik, mulai dari pemetaan titik amblas hingga tahap pemadatan akhir, berhasil dirampungkan hanya dalam waktu lima hari kerja kalender secara intensif.

Kecepatan eksekusi ini membuktikan bahwa sinergi pendanaan non-APBD melalui aliansi CSR korporasi, pemerintah desa, dan swadaya warga mampu memangkas waktu tunggu yang biasanya menjadi kendala klasik pada proyek infrastruktur reguler. (ril/dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang