Scroll untuk baca artikel
Literasi

Syaban: Ruang Refleksi Rohani dan Transformasi Sejarah Islam

×

Syaban: Ruang Refleksi Rohani dan Transformasi Sejarah Islam

Sebarkan artikel ini

Berada di antara Rajab yang mulia dan Ramadan yang agung, bulan Syaban sering kali luput dari perhatian. Padahal, bulan kedelapan dalam kalender Hijriah ini menyimpan rentetan peristiwa teologis dan historis yang fundamental bagi fondasi keimanan umat Islam.

Syaban: Ruang Refleksi Rohani dan Transformasi Sejarah Islam
Syaban: Ruang Refleksi Rohani dan Transformasi Sejarah Islam. (dok. freepik)

PALEMBANG, NUSALY — Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama mencatat 1 Syaban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Munculnya hilal Syaban bukan sekadar penanda waktu, melainkan gerbang spiritual bagi umat Muslim untuk melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Nama Syaban yang berakar dari kata Sya’ba berarti “merekah” atau “memancar”. Secara filosofis, ini melambangkan pancaran kebaikan yang dipersiapkan untuk menyambut panen pahala di bulan kesembilan. Namun, lebih dari sekadar persiapan, Syaban adalah saksi bisu dari transformasi besar dalam perjalanan risalah kenabian.

Transformasi Kiblat dan Identitas Umat

Salah satu peristiwa paling monumental yang terjadi pada bulan Syaban adalah peralihan arah kiblat. Selama kurang lebih 17 bulan pasca-hijrah ke Madinah, umat Islam melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem.

Pada pertengahan Syaban tahun kedua Hijriah, turunlah firman Allah melalui Surah Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Rasulullah SAW untuk memalingkan wajah ke arah Masjidil Haram di Mekkah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan arah geografis, melainkan penegasan identitas tauhid dan kemandirian umat Islam sebagai Ummatan Washathan.

Manifestasi Cinta melalui Shalawat

Syaban juga kerap dijuluki sebagai Syahrul Shalawat atau bulan bershalawat. Hal ini didasari atas turunnya Surah Al-Ahzab ayat 56 yang menegaskan kedudukan mulia Nabi Muhammad SAW di mata Sang Pencipta dan malaikat-Nya.

Para ulama, termasuk Ibnu Hajar Al-Asqalani, menyebutkan bahwa perintah bagi orang beriman untuk mengucapkan salam penghormatan kepada Nabi ini turun pada bulan Syaban tahun kedua Hijriah. Hal inilah yang mendasari anjuran bagi umat Muslim untuk memperbanyak ekspresi mahabbah (cinta) kepada Rasulullah melalui lisan sepanjang bulan ini.

Momentum Audit Amal dan Literasi Al-Quran

Secara esoteris, Syaban dipercaya sebagai momentum diangkatnya catatan amal tahunan manusia ke hadapan Tuhan (Rabbil ‘alamin). Dalam sebuah hadis riwayat An-Nasa’i, Rasulullah SAW mengungkapkan kegemarannya berpuasa di bulan ini agar saat “audit” amal berlangsung, beliau sedang dalam keadaan batin yang terjaga melalui ibadah puasa.

Selain itu, tradisi keilmuan Islam mengenal Syaban sebagai Syahrul Qur’an. Meski membaca Al-Quran adalah amalan harian, namun intensitasnya ditingkatkan di bulan ini sebagai bentuk latihan intensif agar saat Ramadan tiba, lisan dan hati sudah terbiasa berinteraksi dengan wahyu.

Kehadiran Syaban 1447 H di awal tahun 2026 ini menjadi pengingat bagi publik untuk tidak terhanyut dalam rutinitas duniawi semata. Mengingat signifikansi sejarahnya, Syaban adalah waktu yang tepat untuk melakukan konsolidasi spiritual, memperbaiki arah “kiblat” hidup, dan memperkuat literasi keagamaan demi mencapai derajat ketakwaan yang lebih utuh di bulan-bulan mendatang.

(dhi)

NUSALY Channel

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.