Massa dari ring satu wilayah operasional pabrik semen plat merah melakukan aksi unjuk rasa mendadak. Blokade jalan angkutan logistik dipasang sebagai imbas buntunya jalur negosiasi dengan pihak direksi.
BATURAJA, NUSALY – Eskalasi ketegangan sosial antara korporasi besar dan masyarakat penyangga wilayah operasional kembali pecah di Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Dipicu kekecewaan kronis atas sistem rekrutmen internal yang dinilai menutup pintu bagi pemuda daerah, puluhan warga melancarkan aksi blokade jalan guna menuntut transparansi tata kelola ketenagakerjaan.
Aksi unjuk rasa yang diklaim sebagai gerakan damai tersebut meletus di pintu masuk kawasan industri PT Semen Baturaja, Desa Pusar, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten OKU, Senin (18/5/2026) sekira pukul 08.30 WIB.
Konflik horizontal ini memaksa jajaran kepolisian dari Polres OKU turun langsung ke lokasi guna melakukan pengamanan ketat dan memediasi kedua belah pihak di tengah kepungan massa.
Berdasarkan pantauan di lapangan, warga membentangkan spanduk putih raksasa bertuliskan tuntutan radikal: “HAPUSKAN NEPOTISME!! UTAMAKAN TENAGA KERJA LOKAL DI PT. SEMEN BATURAJA”.
Tak puas hanya berorasi, massa menghentikan paksa operasional truk dengan menutup portal besi pembatas jalan angkutan semen.
Praktik Nepotisme
Akar dari gelombang protes di wilayah ring satu ini dibongkar oleh koordinator lapangan aksi, Dedi Wijaya. Warga menengarai adanya praktik busuk terselubung (nepotisme) yang dijalankan oleh oknum pejabat di dalam tubuh PT Semen Baturaja dalam menentukan sirkulasi karyawan baru.
Menurut Dedi, selama ini formasi lowongan kerja strategis maupun teknis lebih banyak diisi oleh tenaga kerja dari luar wilayah Sumatera Selatan melalui jalur kedekatan personal atau kekerabatan dengan oknum internal.
Imbasnya, putra daerah asli Desa Pusar yang memiliki kompetensi teknis justru tersingkir dan hanya menjadi penonton di tanah kelahiran mereka sendiri.
“Kami menuntut keadilan tentang tenaga kerja lokal dan penghapusan nepotisme yang ada di perusahaan. Selama ini oknum-oknum di PT Semen ini kebanyakan memasukkan orang luar, jadi orang-orang dekat mereka saja yang dimasukkan sementara putra daerah sini tidak terpakai,” tegas Dedi Wijaya saat diwawancarai di tengah riuhnya demonstrasi.
Warga mendesak jajaran Direksi Utama PT Semen Baturaja bertindak agresif melakukan pembersihan internal secara menyeluruh.
Massa meminta oknum-oknum pejabat yang terbukti memelihara praktik nepotisme tersebut segera dibebastugaskan (dibangku-panjangkan) atau dipecat secara tidak hormat demi mengembalikan hak-hak ekonomi warga lingkar tambang.
Blokade Jalan
Buntut dari belum adanya kepastian regulasi dari pihak manajemen atas yang bersedia menemui langsung para demonstran, massa memilih melakukan tindakan penguncian wilayah logistik.
Warga menutup total portal utama dan memasang barikade motor melintang di jalur keluar-masuk kendaraan operasional pabrik.
Langkah taktis ini otomatis melumpuhkan sirkulasi truk angkutan semen dan material hulu untuk sementara waktu.
Beberapa warga bahkan mendirikan tenda terpal biru darurat di sisi pembatas jalan sebagai penanda kesiapan mereka untuk bertahan di lokasi hingga tuntutan dikabulkan.
Di tengah situasi yang memanas, salah satu unsur pimpinan manajemen PT Semen Baturaja bernama Aprizal sempat keluar mendekati kerumunan massa yang sedang berorasi untuk mendengar poin-poin keberatan dari warga.
Pengawalan ketat pun dilakukan oleh kepolisian sektor setempat. Tampak di lokasi, Kapolsek Baturaja Timur AKP Toni Zainudin SH berulang kali melakukan komunikasi persuasif dengan Dedi Wijaya di bawah papan tiang ATM BNI untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tidak bergeser ke arah tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik BUMN tersebut.
Respons Direksi
Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Pusar masih bersikeras mempertahankan posisi blokade jalan di sekitar gedung Rumah BUMN Baturaja sampai perwakilan direksi yang memiliki otoritas pengambilan kebijakan datang menemui mereka secara resmi.
Masyarakat menegaskan tidak akan membuka akses logistik industri jika manajemen hanya mengirimkan perwakilan negosiator tingkat bawah yang tidak bisa memberikan jaminan hitam di atas putih terkait kuota prioritas pekerja lokal di masa mendatang.
“Harapannya ya supaya persoalan ini cepat selesai dan cepat ditanggapi dengan kepastian nyata oleh direksi. Jangan sampai hak kami sebagai warga desa ring satu terus-menerus dikebiri oleh kepentingan kelompok tertentu,” pungkas Dedi. (Jum Radit)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





