Hasil imbang 3-3 di Belgia mengungkap degradasi identitas pertahanan Atletico Madrid yang legendaris. Saat pragmatisme Diego Simeone mulai usang, Club Brugge membuktikan bahwa data taktis dan nyali mampu meruntuhkan hierarki ekonomi Eropa.
BRUGGE, NUSALY – Sepanjang hampir satu setengah dekade, dunia mengenal satu hukum yang nyaris absolut di kancah sepak bola Eropa: jika Atletico Madrid asuhan Diego Simeone sudah unggul dua gol, maka pertandingan telah usai bagi lawan. Namun, di bawah lampu sorot Stadion Jan Breydel, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB, hukum itu secara resmi dinyatakan kedaluwarsa. Club Brugge tidak hanya memaksakan hasil imbang 3-3 melalui gol dramatis Christos Tzolis di menit ke-89, tetapi juga mengekspos erosi identitas yang tengah melanda salah satu kekuatan pertahanan paling ditakuti di dunia.
Laga babak play-off fase gugur Liga Champions ini menyajikan kontras yang tajam antara tradisi pragmatisme dan keberanian menyerang. Atletico sempat terlihat akan menang mudah lewat penalti Julian Alvarez (8′) dan gol debut Eropa Ademola Lookman sesaat sebelum turun minum. Namun, keunggulan 2-0 di babak pertama justru menjadi “jebakan kenyamanan” yang membongkar fakta bahwa lini belakang Los Rojiblancos kini tak lagi memiliki koordinasi baja yang pernah membawa mereka ke dua final Liga Champions.
Senjakala Simeonismo
Analisis mendalam terhadap pertandingan ini mengungkap satu statistik yang mengguncang otoritas Simeone. Sejak mengambil alih kendali Atletico pada 2011, Simeone belum pernah sekalipun gagal memenangi laga Liga Champions setelah sempat memimpin dua gol. Catatan bersih selama 14 tahun itu hancur di tangan tim Belgia yang secara nilai pasar pemain tak mencapai sepertiga dari skuad Madrid.
Runtuhnya rekor ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari degradasi sistemik. Jika dulu Atletico mampu “membekukan” permainan saat unggul, kini mereka tampil reaktif dan gugup di bawah tekanan high-pressing. Data Expected Goals (xG) menunjukkan angka yang sangat berimbang: 2.22 untuk Brugge dan 2.36 untuk Atletico. Artinya, kualitas peluang yang diciptakan Brugge setara dengan raksasa Spanyol tersebut. Ini adalah bukti bahwa dominasi Atletico kini hanya tinggal nama besar, sementara eksekusi taktis mereka di lapangan mulai tertinggal oleh dinamika sepak bola modern yang lebih cair.
Anatomi Perlawanan
Kunci dari keberhasilan Brugge terletak pada eksploitasi celah antara lini tengah dan belakang Atletico. Raphael Onyedika, gelandang internasional Nigeria, menjadi motor serangan yang gagal diredam oleh Koke maupun Conor Gallagher. Golnya pada menit ke-46, sesaat setelah jeda, menjadi pemicu runtuhnya mentalitas Atletico.
Pemain muda Italia, Nicolo Tresoldi, mempertegas kerapuhan itu dengan gol penyama kedudukan pada menit ke-60. Tresoldi secara cerdik memenangi duel posisi melawan Jose Maria Gimenezโseorang bek yang biasanya dikenal sangat dominan dalam duel udara dan posisi. Keberhasilan Tresoldi mencetak gol setelah menyelinap di antara penjagaan dua bek tengah Atletico adalah sinyal bahwa koordinasi zonal marking Simeone sedang mengalami disorientasi parah.
Momentum Dramatis
Drama tidak berhenti di sana. Meski Atletico kembali unggul lewat gol bunuh diri Joel Ordonez akibat tekanan pemain pengganti Alexander Sorloth pada menit ke-79, Brugge tetap tenang. Christos Tzolis, penyerang internasional Yunani, menjadi simbol kegagalan Atletico dalam menutup ruang.
Tzolis mencatatkan angka tembakan terbanyak (5 kali) dan sentuhan di kotak penalti terbanyak (9 kali) dalam laga ini. Golnya di menit ke-89 yang meluncur ke pojok bawah gawang Jan Oblak adalah “vonis” bagi pertahanan Atletico yang kehilangan konsentrasi di fase krusial. Brugge membuktikan bahwa intensitas mampu meruntuhkan tembok pragmatisme yang paling tebal sekalipun.
Proyeksi Finansial
Di balik papan skor, hasil imbang ini membawa dampak ekonomi yang signifikan. Dalam format baru Liga Champions yang lebih panjang, ketidakpastian di babak play-off meningkatkan risiko finansial bagi klub-klub besar. Bagi Atletico, kegagalan melangkah ke babak 16 besar akan menjadi bencana neraca keuangan.
Pendapatan dari hak siar, bonus kemenangan dari UEFA, dan potensi pemasukan tiket di fase gugur yang bernilai puluhan juta Euro kini bergantung pada laga kedua di Madrid pada 24 Februari mendatang. Inkonsistensi yang ditunjukkan Simeoneโsetelah sebelumnya melibas Barcelona namun takluk dari tim semenjana Rayo Vallecanoโmenunjukkan bahwa skema rotasi dan integrasi pemain baru seperti Alexander Sorloth belum menyatu sepenuhnya dengan DNA pertahanan tim.
Krisis Identitas
Laga kedua di Madrid tidak akan mudah. Dengan ditiadakannya aturan gol tandang, kedudukan 3-3 berarti kedua tim memulai dari titik nol. Namun, tekanan psikologis sepenuhnya berada di pundak Atletico. Publik di Metropolitano tidak akan memaafkan jika benteng pertahanan legendaris mereka kembali tertembus oleh keberanian kolektif tim tamu.
Bagi Club Brugge, hasil di Jan Breydel adalah kemenangan moral. Mereka membuktikan bahwa di era jurnalisme data, tim yang mampu menerjemahkan angka taktis menjadi intensitas fisik di lapangan akan selalu memiliki peluang untuk menumbangkan raksasa. Jika Simeone tidak mampu mengembalikan “marwah” pertahanannya dalam sepekan, laga di Madrid mungkin akan menjadi saksi berakhirnya sebuah era yang kita kenal sebagai Simeonismo.
SUSUNAN PEMAIN:
Club Brugge (4-3-3): 22-Mignolet (GK); 55-Seys, 4-Ordonez, 44-Mechele, 5-De Cuyper; 15-Onyedika, 20-Vanaken (C), 30-Jashari; 7-Skov Olsen, 9-Tresoldi, 11-Tzolis. Pelatih: Nicky Hayen.
Atletico Madrid (5-3-2): 13-Oblak (GK) (C); 14-Llorente, 24-Le Normand, 2-Gimenez, 23-Reinildo, 12-Lino; 5-De Paul, 6-Koke, 4-Gallagher; 19-Alvarez, 11-Lookman. Pelatih: Diego Simeone.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




