Kegagalan penalti Lamine Yamal menjadi potret rapuhnya Barcelona di Estadio Montilivi. Kekalahan dari Girona tak hanya memutus tren positif, tetapi juga melapangkan jalan Real Madrid dalam perburuan gelar juara.
GIRONA, NUSALY — Stadion Estadio Montilivi menjadi saksi bisu runtuhnya dominasi sesaat Barcelona di puncak klasemen La Liga. Dalam laga bertajuk Derbi Catalan yang berlangsung sengit dan penuh emosi, pasukan Hansi Flick harus pulang dengan kepala tertunduk setelah ditaklukkan tuan rumah, Girona. Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan sebuah sinyal bahaya bagi ambisi juara “Blaugrana” yang kini tertinggal dua poin dari rival abadi mereka, Real Madrid.
Barcelona datang ke Montilivi dengan beban mental yang cukup berat setelah sebelumnya dihajar 0-4 oleh Atletico Madrid di ajang Copa del Rey. Alih-alih bangkit, Barca justru tampil letargik dan kehilangan kreativitas yang biasanya menjadi identitas permainan mereka di bawah asuhan Flick.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Girona langsung mengambil inisiatif serangan. Mereka tidak membiarkan Barcelona membangun ritme permainan. Baru satu menit laga berjalan, penjaga gawang Barca, Joan Garcia, sudah harus jatuh bangun menyelamatkan gawangnya dari gempuran lini depan Girona yang tampil sangat agresif.
Malam Kelam Lamine Yamal
Sorotan utama dalam laga ini tertuju pada bintang muda Lamine Yamal. Pemain yang digadang-gadang sebagai tumpuan masa depan klub ini justru mengalami salah satu malam terburuk dalam kariernya. Yamal terlihat kehilangan ketajamannya di depan gawang, menyia-nyiakan dua peluang emas dari jarak dekat yang seharusnya bisa mengubah jalannya pertandingan.
Puncak dari frustrasi Yamal terjadi di masa cedera babak pertama. Barcelona mendapatkan hadiah penalti yang bisa menjadi momentum pembalik keadaan. Namun, eksekusi Yamal justru menghantam dasar tiang gawang, membuat skor kacamata bertahan hingga turun minum. Kegagalan ini seolah menjadi potret rapuhnya mentalitas para pemain muda Barca saat berada di bawah tekanan derbi yang penuh provokasi.
Memasuki babak kedua, Barcelona mencoba menaikkan intensitas serangan. Hasilnya terlihat pada menit ke-59 ketika skema bola mati membuahkan hasil. Bek kanan Jules Kounde melepaskan umpan silang akurat yang disambut dengan sundulan melengkung oleh bek muda Pau Cubarsi. Bola bersarang di pojok atas gawang Girona, menandai gol liga perdana Cubarsi sekaligus membawa pendukung tim tamu bersorak.
Respons Kilat dan Drama VAR
Namun, kegembiraan Barcelona hanya bertahan sekejap. Hanya dua menit berselang, Girona langsung menyamakan kedudukan melalui serangan balik cepat. Vladyslav Vanat mengirimkan umpan tarik yang diselesaikan dengan dingin oleh Thomas Lemar. Gol kedua Lemar dalam dua laga terakhir ini seketika meruntuhkan kembali mentalitas pertahanan Barcelona.
Drama mencapai puncaknya pada menit ke-86. Pemain pengganti Girona, Fran Beltran, muncul sebagai pahlawan tuan rumah setelah melepaskan tembakan yang merobek jala Joan Garcia. Para pemain Barcelona melakukan protes keras kepada wasit, mengklaim bahwa Jules Kounde dilanggar lebih dulu saat proses pembangunan serangan Girona. Namun, setelah konsultasi singkat dengan Video Assistant Referee (VAR), gol tersebut tetap dinyatakan sah.
Barcelona yang panik mencoba membalas di sisa waktu, namun pertahanan Girona tampil sangat solid. Ketegangan sempat memuncak di masa injury time saat pemain pengganti Girona, Joel Roca, diganjar kartu merah langsung setelah melakukan tekel keras terhadap Lamine Yamal. Sayangnya, keunggulan jumlah pemain di menit-menit akhir tidak mampu dimanfaatkan Barca untuk mencuri gol penyeimbang.
Ancaman di Jalur Juara
Kekalahan ini menjadi kekalahan ketiga Barcelona di liga musim ini, sekaligus kekalahan kedua secara beruntun di semua kompetisi. Tren tiga kemenangan beruntun di liga pun terputus dengan menyakitkan. Bagi pelatih Hansi Flick, ini adalah alarm keras bahwa kedalaman skuadnya mulai teruji oleh jadwal padat dan tekanan mental.
Di sisi lain, kemenangan ini menjadi momen kebangkitan bagi Girona yang sebelumnya gagal menang dalam tiga laga terakhir. Tim asuhan Michel ini kini naik ke peringkat ke-12 klasemen sementara, unggul lima poin dari zona degradasi.
Konsekuensi bagi Barcelona jauh lebih serius. Mereka kini terancam tertinggal lima poin jika Real Madrid mampu menjinakkan Osasuna pada hari Sabtu mendatang. Dengan jadwal yang tidak semakin mudah, Barcelona harus segera memulihkan kondisi fisik dan mental mereka sebelum menjamu Levante di hari Minggu.
“Di La Liga, setiap kegagalan di laga derbi bukan sekadar soal prestise lokal, melainkan taruhan besar bagi gelar yang bisa lepas dalam sekejap mata.”
Kegagalan di Montilivi menegaskan bahwa Barcelona belum sepenuhnya matang untuk menjaga konsistensi di puncak. Kini, beban berat berada di pundak Hansi Flick untuk memastikan “kapal” Blaugrana tidak karam lebih jauh dalam persaingan menuju takhta juara Spanyol.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




