Dominasi penguasaan bola hingga 84 persen yang diperagakan Arsenal di Molineux berubah menjadi fatamorgana. Kegagalan menjaga detail mendasar di menit akhir bukan sekadar nasib buruk, melainkan sinyal kerapuhan mental dalam perburuan gelar juara.
WOLVERHAMPTON, NUSALY – Sepak bola Inggris kembali memberikan pelajaran mahal tentang garis tipis yang memisahkan antara dominasi teknis dan kendali mental. Arsenal, sang pemuncak klasemen Liga Inggris 2025-2026, terpaksa pulang dari Stadion Molineux dengan satu poin yang terasa seperti kekalahan setelah ditahan imbang 2-2 oleh juru kunci Wolverhampton Wanderers, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. Hasil ini membongkar sebuah paradoks: bagaimana tim yang menguasai bola hingga 84 persen bisa runtuh oleh tim yang hampir tidak diberi ruang bernapas sepanjang laga.
Sejak peluit awal, The Gunners tampil dengan estetika permainan yang nyaris sempurna. Bukayo Saka membuka keunggulan di menit ke-5 melalui skema serangan yang rapi, mencerminkan kelas Arsenal sebagai kandidat kuat juara. Namun, statistik penguasaan bola absolut di babak pertama nyatanya menjadi “pisau bermata dua”. Dominasi tersebut menciptakan rasa aman palsu yang membuat lini belakang mereka kehilangan kewaspadaan terhadap transisi cepat lawan.
Runtuhnya Konsentrasi
Memasuki babak kedua, gol Piero Hincapie pada menit ke-56 seharusnya menjadi titik akhir perlawanan Wolves. Namun, sejarah perburuan gelar Liga Inggris sering kali ditentukan oleh detail-detail kecil yang diabaikan. Gol balasan Hugo Bueno pada menit ke-61 menunjukkan adanya lubang dalam organisasi pertahanan Arsenal saat menghadapi serangan balik sporadis.
Tragedi mencapai puncaknya di masa injury time (90+4′). Keputusan Arteta memasukkan Riccardo Calafiori di menit ke-93 untuk mempertebal pertahanan justru berbuah ironi. Hanya satu menit di lapangan, Calafiori melakukan gol bunuh diri setelah gagal mengantisipasi kemelut yang diawali aksi Tom Edozie. Kejadian ini bukan sekadar nasib sial; ini adalah manifestasi dari kepanikan kolektif sebuah tim yang kehilangan arah saat kendali permainan mulai lepas dari kaki mereka.
Autokritik Tajam Mikel Arteta
Manajer Mikel Arteta tidak memberikan pembelaan diplomatis bagi skuadnya. Ia justru melakukan pembedahan keras terhadap kegagalan timnya menjaga standar “hal-hal mendasar” (basics) dalam sepak bola. Bagi Arteta, penguasaan bola yang masif tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan ketangguhan mental untuk menyelesaikan pertandingan.
“Sangat sulit untuk menerimanya. Di babak kedua kami tidak bermain seperti seharusnya. Ada hal-hal mendasar tertentu yang saat ini masih jauh dari level kita, dan ketika Anda tidak berkinerja baik, Anda bisa dihukum,” tegas Arteta sebagaimana dikutip dari BBC.
Arteta secara spesifik menyoroti hilangnya kontrol emosi yang memicu rentetan kesalahan berantai. “Sangat mudah untuk mengatakan hal-hal yang dapat merugikan tim karena emosi. Kami kehilangan dominasi, tidak memiliki kendali dalam permainan. Kami harus menerima pukulan itu karena hal itu bisa terjadi ketika Anda berada di puncak,” tambahnya.
Secara historis, kegagalan mengunci poin penuh melawan tim papan bawah sering kali menjadi titik balik krusial dalam perburuan gelar juara bagi Arsenal. Dengan koleksi 58 poin, selisih lima angka dari Manchester City kini berada dalam posisi rentan, mengingat rival terdekat mereka tersebut memiliki catatan performa yang lebih stabil di penghujung musim.
Lebih dari sekadar tabel klasemen, hasil imbang ini memberikan beban psikologis masif menjelang laga derbi melawan Tottenham Hotspur pekan depan. Jika “hal-hal mendasar” yang dikeluhkan Arteta tidak segera dibenahi, maka dominasi statistik di lapangan hanya akan menjadi catatan indah yang hampa tanpa trofi di akhir musim.
SUSUNAN PEMAIN:
Wolves (3-4-2-1): 1-Jose Sa; 4-Santiago Bueno, 15-Mosquera, 37-Krejci; 7-Andre, 47-Gomes (14-Arokodare), 38-Tchatchoua (21-Gomes), 3-Hugo Bueno; 36-Mateus Mane, 27-Bellegarde (74-Edozie); 9-Armstrong. Pelatih: Rob Edwards.
Arsenal (4-2-3-1): 1-Raya; 6-Magalhaes, 2-Saliba, 12-Timber, 5-Hincapie; 36-Zubimendi, 41-Rice; 7-Saka (19-Trossard/33-Calafiori), 20-Madueke (10-Eze), 11-Martinelli; 14-Gyokeres (9-Jesus). Pelatih: Mikel Arteta.
(dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




