Real Madrid harus menelan pil pahit setelah ditumbangkan Osasuna 1-2 melalui drama VAR. Kekalahan ini menjadi alarm bagi skuad Alvaro Arbeloa yang kini terancam dikudeta Barcelona.
PAMPLONA, NUSALY – Stadion El Sadar kembali menegaskan reputasinya sebagai kuburan bagi kemapanan. Real Madrid, sang penguasa klasemen La Liga, dipaksa bertekuk lutut oleh tuan rumah Osasuna dengan skor 1-2, Sabtu (21/2/2026) malam waktu setempat. Hasil ini bukan sekadar kehilangan tiga poin bagi “Los Blancos”, melainkan sebuah tamparan keras yang merusak ritme mereka dalam perburuan gelar juara.
Kekalahan ini membuat posisi Madrid di puncak klasemen dengan 60 poin berada di ujung tanduk. Rival abadi mereka, Barcelona, yang hanya terpaut dua angka, berpeluang besar melakukan kudeta jika mampu menundukkan Levante pada laga Minggu besok. Madrid kini menatap kenyataan pahit: keunggulan yang mereka bangun perlahan mulai terkikis oleh kegagalan mengantisipasi determinasi tim papan tengah yang bermain tanpa beban.
Drama VAR
Madrid sebenarnya memulai laga dengan upaya mendominasi, namun mereka kerap dibuat gugup oleh serangan balik tajam Osasuna. Petaka bagi tim tamu bermula pada menit ke-34 melalui sebuah drama yang melibatkan teknologi asisten wasit (VAR). Thibaut Courtois dianggap melakukan pelanggaran terhadap Ante Budimir di kotak terlarang.
Wasit yang semula memberikan kartu kuning kepada Budimir karena tuduhan simulasi, membatalkan keputusan tersebut setelah melihat layar monitor. Budimir yang maju sebagai eksekutor dengan tenang menaklukkan Courtois. Gol ini sekaligus memperpanjang catatan buruk Madrid musim ini yang telah kebobolan empat gol dari titik putih, menunjukkan ada masalah serius dalam koordinasi area penalti di bawah asuhan Arbeloa.
Respons Vinicius
Memasuki babak kedua, Madrid meningkatkan intensitas serangan. Namun, statistik menunjukkan betapa tumpulnya lini depan mereka malam itu. Dari 18 tembakan yang dilepaskan, hanya 5 yang mengarah tepat ke gawang Sergio Herrera. Asa sempat membuncah pada menit ke-73 saat Federico Valverde melakukan penetrasi di sisi kiri dan mengirimkan umpan rendah yang diselesaikan dengan sempurna oleh Vinicius Jr.
Gol ini sempat menghidupkan memori remontada atau kebangkitan khas Madrid. Namun, ada lapisan masalah yang terlihat: Kylian Mbappe tampak terisolasi. Penyerang asal Perancis itu sebenarnya sempat mencetak gol pada menit ke-70, namun dianulir VAR karena posisi offside yang hanya berjarak hitungan sentimeter.
Kegagalan Mbappe mengonversi peluang dalam tiga laga terakhir mulai menimbulkan pertanyaan mengenai adaptasi taktisnya dalam skema Arbeloa yang lebih mengandalkan transisi cepat ketimbang penguasaan bola dominan.
Titik Balik
Namun, kedisiplinan Osasuna menjadi tembok yang terlalu tebal. Saat Madrid asyik menyerang di masa injury time, sebuah kesalahan individu menjadi titik balik yang fatal. Dani Ceballos kehilangan bola di area krusial, yang memicu serangan balik kilat Osasuna melalui Raul Moro.
Bola kemudian dikirimkan kepada Raul Garcia del Haro. Dengan ketenangan luar biasa, penyerang pengganti itu mengecoh bek muda Raul Asencio sebelum melepaskan tembakan melengkung ke pojok atas gawang.
Ini adalah gol ketiga Osasuna musim ini yang tercipta melalui skema serangan balik di menit-menit akhir, membuktikan bahwa pelatih Osasuna, Vicente Moreno, memiliki pembacaan momentum yang jauh lebih baik daripada Arbeloa dalam laga ini.
Ujian Konsistensi
Kekalahan di Pamplona ini bukan sekadar statistik sial. Secara historis, El Sadar memang sering menjadi penentu nasib Madrid. Sejak satu dekade terakhir, setiap kali Madrid gagal menang di kandang Osasuna pada putaran kedua, peluang mereka menjuarai liga menurun drastis hingga 40 persen.
Kekalahan ini juga menyingkap kerentanan Madrid dalam menghadapi tim dengan blok pertahanan rendah (low block) yang disiplin.
Bagi Arbeloa, kegagalan ini adalah alarm sebelum mereka terbang ke Portugal untuk menghadapi Benfica di Liga Champions. Tanpa perbaikan pada kreativitas lini tengah dan kedisiplinan transisi bertahan, Madrid berisiko kehilangan segalanya dalam kurun waktu satu pekan.
Dinamika di El Sadar ini menunjukkan bahwa La Liga musim ini bukan lagi sekadar panggung dominasi dua kutub, melainkan ujian ketangguhan menghadapi militansi tim-tim daerah.
Real Madrid kini diingatkan bahwa gelar juara tidak ditentukan oleh kemegahan skuad di atas kertas, melainkan dari ketahanan mental di lapangan yang penuh tekanan.
Persaingan menuju takhta Spanyol kini resmi berada di titik didihnya, menuntut respons instan dari Arbeloa sebelum momentum juara benar-benar lepas dari genggaman.
(reuters)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





