Kemenangan perdana Marc Marquez pada musim 2026 tidak diraih dengan dominasi absolut, melainkan lewat penantian panjang di balik helm. Di tengah ancaman lubang aspal yang menunda balapan, sang juara bertahan membuktikan bahwa mentalitas adalah pembeda di lintasan yang sejatinya tidak ia sukai.
GOIANIA, NUSALY – Marc Marquez (Ducati Lenovo) seolah dipaksa menguji batas kesabarannya sebelum akhirnya berdiri di podium tertinggi untuk pertama kali pada musim ini. Dalam balapan Sprint MotoGP Brasil di Sirkuit Goiania, Sabtu (21/3/2026), Marquez tidak hanya bertarung dengan rival, tetapi juga melawan ketidakpastian akibat munculnya lubang (sinkhole) di permukaan aspal lintasan lurus utama yang menunda balapan hingga 80 menit.
Marquez menyentuh garis finis di posisi terdepan setelah melewati drama 15 lap yang melelahkan secara mental. Ia unggul tipis 0,213 detik dari Fabio Di Giannantonio (VR46 Ducati) yang tampil dominan hampir di seluruh putaran. Bagi Marquez, hasil ini adalah penebusan setelah pekan lalu di Buriram, Thailand, penalti di lap terakhir merampas peluang kemenangannya.
”Di Thailand saya sudah dekat, dan hari ini kami berhasil melakukannya. Ini sirkuit yang membuat saya tidak 100 persen yakin bisa melaju cepat, terutama di sektor satu dan empat,” ujar Marquez usai balapan.
Menunggu Kesalahan
Memulai balapan dari posisi ketiga, Marquez sempat tercecer ke urutan ketiga setelah disalip oleh Fabio Quartararo (Yamaha) yang melakukan start impresif. Marquez butuh tiga putaran untuk kembali merebut posisi kedua dan mulai memangkas selisih 1,2 detik dari Di Giannantonio yang memimpin di depan.
Berdasar pantauan jalannya lomba, Marquez tampak bermain sangat taktis. Ia tidak memaksakan serangan agresif di tikungan-tikungan kanan Goiania yang menurutnya tidak cocok dengan gaya balapnya. Momen krusial baru tercipta pada dua lap terakhir saat Di Giannantonio melakukan kesalahan kecil dengan melebar di Tikungan 12.
Celah sempit itu langsung disambar Marquez untuk mengambil alih pimpinan lomba di Tikungan 13. ”Sejujurnya, hari ini posisi kedua sudah cukup bagi saya. Namun, saat melihat dia melakukan kesalahan dan hampir kehilangan kendali ban depan, saya mencoba menyerang,” kata pebalap berusia 33 tahun tersebut.
Doa untuk Aspal
Di luar persaingan pebalap, kembalinya MotoGP ke Brasil setelah absen sejak 2004 menyisakan catatan kritis soal keamanan sirkuit. Kerusakan aspal tepat di garis start-finis memaksa panitia melakukan perbaikan darurat dan menjadwalkan ulang sesi kualifikasi kelas Moto2 ke Minggu pagi.
Marquez secara terbuka menyatakan kekhawatirannya jika kerusakan serupa muncul di jalur balap (racing line) pada balapan utama hari Minggu. Baginya, keselamatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar meski gairah balap sedang tinggi.
”Kami berdoa agar kondisi trek tetap seperti ini. Lubang besar itu untungnya berada di luar jalur balap. Mereka melakukan pekerjaan luar biasa untuk memperbaikinya, tapi jika lubang itu muncul di jalur balap, itu akan mustahil untuk balapan,” tegas pebalap asal Spanyol itu.
Sementara itu, Jorge Martin mencatatkan sejarah kecil dengan memberikan podium perdana bagi Aprilia Racing musim ini setelah finis di posisi ketiga. Hasil Sprint ini memperpendek jarak poin Marquez dengan pemimpin klasemen, Pedro Acosta (KTM), yang hanya mampu finis di urutan kesembilan.
Keberhasilan Marquez di Goiania menunjukkan bahwa kemenangan sering kali bukan soal siapa yang paling cepat sejak awal, melainkan siapa yang paling jeli memanfaatkan momentum di saat kritis. Kini, tantangan sebenarnya menanti di balapan utama hari Minggu, di mana daya tahan ban dan stabilitas aspal Goiania akan kembali diuji. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





