Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan

Banner Ramdan Pemkab MUBA

Banner Ramdan DPRD OKI
Korporasi

Upaya Menahan Laju Penurunan Minyak di Lapangan Tua Jambi

×

Upaya Menahan Laju Penurunan Minyak di Lapangan Tua Jambi

Sebarkan artikel ini
Upaya Menahan Laju Penurunan Minyak di Lapangan Tua Jambi
SKK Migas meresmikan uji coba lapangan (field trial) injeksi kimia di Meruap, Minggu (1/3/2026). Dok .SKK Migas

SKK Migas mendukung penuh uji coba injeksi kimia di Lapangan Meruap sebagai strategi menjaga produksi minyak nasional. Teknologi ini menjadi tumpuan harapan bagi ribuan lapangan minyak tua di Indonesia yang mulai mengalami penurunan tekanan alami.

SAROLANGUN, NUSALY – Mengelola lapangan minyak yang sudah berumur (mature field) di Indonesia ibarat merawat mesin tua yang butuh perlakuan khusus agar tetap bisa berlari kencang. Tantangan teknis seperti tekanan reservoir yang terus merosot serta kadar air yang semakin tinggi kini menjadi makanan sehari-hari di industri hulu migas. Di tengah situasi yang menantang ini, sebuah terobosan teknis tengah diuji di Lapangan Meruap, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Harapan untuk memeras sisa-sisa minyak yang masih terjebak di perut bumi itu mulai menemui titik terang saat SKK Migas meresmikan uji coba lapangan (field trial) injeksi kimia di Meruap, Minggu (1/3/2026). Proyek ini dijalankan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina EP – Samudera Energy BWP sebagai bagian dari strategi Improved Oil Recovery (IOR). Langkah ini menjadi krusial karena Lapangan Meruap sudah berada pada fase di mana minyak tidak lagi bisa keluar hanya dengan dorongan air alami.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melihat proyek ini sebagai miniatur dari tantangan besar yang dihadapi ribuan sumur tua di tanah air. Saat sebuah lapangan memasuki tahap Tertiary Recovery, bantuan zat kimia menjadi kebutuhan mutlak untuk menurunkan kekentalan minyak sehingga lebih mudah dialirkan ke permukaan. Keberhasilan di Jambi diharapkan menjadi cetak biru bagi optimalisasi lapangan eksisting yang lebih efisien dibandingkan harus selalu bergantung pada eksplorasi wilayah baru.

“Pelaksanaan uji coba ini menjadi secercah harapan. Jika ini berjalan mulus, implementasi injeksi kimia dan stimulasi sumur akan kita lakukan secara masif di berbagai lapangan mature lainnya di Indonesia,” ujar Djoko. Ia menegaskan bahwa kedaulatan energi nasional saat ini sangat bergantung pada keberanian melakukan inovasi teknologi di sumur-sumur yang sudah ada.

Inovasi lokal di sumur tua

Aspek menarik dalam proyek di Jambi ini adalah penggunaan cairan kimia Starborn SeMAR dan RCT A-127 yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri. Penggunaan komponen lokal ini membuktikan bahwa industri hulu migas nasional mulai mampu melepaskan diri dari ketergantungan produk impor untuk urusan teknologi tinggi. Penerapan kimia lokal ini dilakukan pada tiga pola sumur injeksi yang menyasar belasan sumur produksi di sekitarnya.

Direktur Utama PT BWP Meruap, Pantja Sunu Wibowo, menyebutkan bahwa koordinasi dengan SKK Migas menjadi kunci agar proyek ini bisa berjalan tepat waktu sejak tahap perencanaan. Dukungan regulator dinilai menjadi suntikan semangat bagi tim teknis untuk membuktikan bahwa teknologi IOR mampu memberikan hasil yang ekonomis. “Proyek ini adalah uji coba pertama di area kerja sama kami dengan Pertamina EP, sehingga keberhasilannya sangat kami pertaruhkan,” ungkapnya.

Proses dari perencanaan hingga penyuntikan kimia ini bisa berjalan sesuai jadwal berkat pengawalan ketat dari SKK Migas. Pantja mengakui, dukungan regulator menjadi kunci agar hambatan birokrasi tidak menghambat pekerjaan teknis di lapangan. “Semangat tim di lapangan sedang tinggi-tingginya untuk membuktikan bahwa teknologi ini bisa meningkatkan produksi secara signifikan,” ujarnya.

Berburu barel tambahan

Target dari proyek di Jambi ini cukup ambisius namun realistis secara ekonomi. Penerapan injeksi kimia diharapkan mampu meningkatkan perolehan minyak hingga sekitar 16 persen secara ekonomis. Jika hitungan di atas kertas ini terwujud di lapangan, setidaknya ada tambahan cadangan sekitar 50 ribu barel yang bisa diamankan.

Lebih detail lagi, kegiatan ini ditargetkan menghasilkan tambahan produksi harian sebesar 280 barel minyak per hari (BOPD). Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 50 persen dari basis produksi normal di tiga pola sumur yang diuji. Meski terlihat kecil dibanding puncak produksi Meruap di masa lalu yang sempat menyentuh 5.000 BOPD, setiap barel tambahan di tengah penurunan produksi nasional sangatlah berarti bagi ketahanan energi.

Di sisi lain, Djoko Siswanto mengingatkan agar target-target produksi ini jangan sampai mengabaikan aspek keselamatan. Dalam industri migas, perlindungan lingkungan dan keselamatan kerja adalah harga mati. “Prinsip Health, Safety, and Environment (HSE) adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Produksi harus naik, tapi keselamatan pekerja tetap yang utama,” tegas Djoko.

Kedaulatan di kaki sendiri

Keberlanjutan produksi minyak nasional kini memang sangat bergantung pada inovasi di lapangan-lapangan eksisting. Transformasi di Lapangan Meruap menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapi penurunan produksi alami. Teknologi IOR dan EOR bukan lagi sekadar wacana di seminar-seminar, tapi mulai diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah hutan Jambi.

Jika uji coba ini mulus, masa depan ribuan sumur tua di Indonesia bisa terselamatkan. Ketergantungan terhadap energi impor setidaknya bisa sedikit ditekan dengan optimalisasi sumur-sumur dalam negeri. Langkah KSO BWP Meruap dan SKK Migas ini adalah sebuah pembuktian bahwa kedaulatan energi memang harus diperjuangkan lewat penguasaan teknologi dan kerja keras di lapangan. (emen)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

error: Content is protected !!