Sekolah menilai masa pengenalan hanyalah tahap awal adaptasi sehingga pendampingan siswa dilanjutkan melalui penguatan disiplin dan kegiatan ekstrakurikuler.
BATURAJA, NUSALY – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Negeri 1 Ogan Komering Ulu telah berakhir. Namun, bagi pihak sekolah, berakhirnya rangkaian kegiatan selama lima hari tersebut bukanlah garis akhir, melainkan awal dari proses adaptasi siswa baru yang sesungguhnya melalui penguatan kedisiplinan dan pembinaan minat-bakat.
Kepala SMAN 1 OKU Muhammad Nasir menyatakan, keberhasilan awal pelaksanaan MPLS mulai terlihat ketika seluruh peserta didik baru secara resmi membaur dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler. Antusiasme siswa mengikuti pelajaran di kelas, kelengkapan atribut saat upacara bendera, hingga kepatuhan jam hadir menjadi indikator awal bahwa budaya belajar di jenjang SMA mulai dipahami.
“Setidak-tidaknya siswa antusias mengikuti KBM mulai kemarin, upacara lengkap, tidak ada yang terlambat, datang tepat waktu, dan pulang tepat waktu. Itu hasil dari MPLS yang berlangsung selama lima hari,” kata Nasir saat diwawancarai di SMAN 1 OKU, Baturaja.
Tantangan jarak dan penyesuaian fisik
Kendati indikator awal menunjukkan perkembangan positif, sekolah mencatat kedisiplinan waktu masih menjadi tantangan mendasar yang harus dikawal secara konsisten. Nasir menjelaskan, persoalan kedisiplinan tidak semata-mata berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan sekolah, melainkan berkaitan erat dengan kondisi geografis tempat tinggal siswa.
Sebagian siswa baru bermukim di wilayah yang memiliki jarak tempuh cukup jauh dari kompleks SMAN 1 OKU. Kondisi tersebut menuntut penyesuaian pola aktivitas harian sejak pagi hari agar siswa tidak terlambat sampai di sekolah.
“Yang pertama disiplin. Jarak tempuh siswa dengan sekolah ini jauh, jadi perlu waktu yang lebih pagi lagi untuk sampai ke sekolah, untuk tepat waktu,” ujar Nasir.
Selain manajemen waktu keberangkatan, sekolah juga menyoroti pentingnya kesiapan fisik dan pola hidup harian siswa selama masa transisi dari SMP ke SMA. Pada awal masa pengenalan, sekolah menemukan sebagian siswa mengalami kelelahan fisik karena belum terbiasa dengan ritme kegiatan yang padat, termasuk kebiasaan melewatkan sarapan di rumah.
Berdasarkan evaluasi selama MPLS, sekolah juga menemukan sebagian siswa datang tanpa sempat sarapan sehingga lebih cepat mengalami kelelahan saat mengikuti rangkaian kegiatan. Karena itu, pihak sekolah mengingatkan pentingnya membiasakan sarapan sebelum berangkat agar kondisi fisik siswa lebih siap mengikuti pembelajaran.
Parameter keberhasilan adaptasi
Bagi SMAN 1 OKU, proses adaptasi siswa baru tidak diukur sebatas pada formalitas kehadiran di dalam kelas. Pihak sekolah menetapkan sejumlah parameter kualitatif untuk menilai apakah seorang peserta didik benar-benar telah menyatu dengan lingkungan sekolah yang baru.
Nasir memaparkan, indikator keberhasilan tersebut mencakup timbulnya semangat belajar, kenyamanan berinteraksi dengan teman sebaya tanpa konflik, serta tumbuhnya rasa betah berada di sekolah.
“Indikatornya adalah semangat belajar, datang pagi tepat waktu, mengikuti kegiatan upacara, antusias dengan kawan-kawannya, tidak ada masalah ribut, dan merasa senang di tempat yang baru,” kata Nasir.
Pendampingan lewat 16 ekstrakurikuler
Menyadari bahwa proses adaptasi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang daripada masa orientasi lima hari, SMAN 1 OKU menyiapkan program pendampingan berkelanjutan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Aktivitas di luar jam KBM ini dipandang sebagai wadah krusial untuk menyalurkan energi positif siswa sekaligus melatih kebiasaan berorganisasi.
Pada tahun ajaran ini, sekolah memperluas pilihan ekstrakurikuler dari 15 menjadi 16 bidang dengan menambahkan cabang debat dan presentasi. Pilihan tersebut melengkapi cabang yang sudah ada sebelumnya, seperti pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), bola basket, hingga jurnalistik.
“Selain KBM, ada ekstrakurikuler. Kalau kemarin tahun 2025 ada 15 macam, sekarang ditambah lagi debat dan presentasi, jadi ada 16 macam. Silakan diikuti sesuai dengan minat dan bakat siswa,” tutur Nasir.
Menanamkan komitmen dan memacu prestasi
Pihak sekolah menegaskan, seluruh pilar pendampingan—mulai dari penegakan disiplin waktu, pengondisian fisik, hingga keterlibatan dalam ekstrakurikuler—pada akhirnya bermuara pada pembentukan karakter dan pencapaian prestasi siswa.
Nasir mengatakan, komitmen tersebut mulai ditanamkan secara formal sejak upacara bendera perdana pasca-MPLS. Dalam kesempatan itu, para siswa diajak mengikrarkan janji untuk memacu potensi diri agar mampu bersaing secara sehat di bidang akademik maupun non-akademik.
“Kemarin sudah saya sampaikan waktu jadi pembina upacara perdana, sesuai dengan janji siswa di upacara itu, salah satunya adalah untuk bersaing di dunia, baik akademik maupun non-akademik. Jadi dipacu, KBM aktif dan disiplin, ditambah lagi bimbel atau ekstrakurikuler. Ini tidak lain adalah untuk membentuk masa depan mereka yang gemilang,” kata Nasir.
Pendampingan yang berlanjut melalui pembelajaran maupun ekstrakurikuler tersebut juga diharapkan menjadi fondasi lahirnya prestasi siswa. Sejumlah capaian yang telah diraih sekolah dinilai menjadi gambaran bahwa pembinaan akademik dan nonakademik terus berjalan.
Nasir mencatat, dua siswa sekolahnya tengah berjuang mewakili daerah di tingkat Provinsi Sumatera Selatan dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Selain itu, seorang siswa SMAN 1 OKU juga baru saja berhasil meraih Juara II kejuaraan renang tingkat provinsi.
Bagi SMAN 1 OKU, keberhasilan MPLS tidak berhenti ketika masa pengenalan selesai. Sekolah memandang proses adaptasi, pembentukan disiplin, dan pengembangan potensi siswa sebagai rangkaian pembinaan yang terus berlanjut sepanjang tahun ajaran. Melalui pendekatan tersebut, sekolah berharap para peserta didik mampu tumbuh menjadi pribadi yang siap bersaing, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. (radit)




