Di tengah derasnya gempuran penetrasi digital dan pergeseran nilai sosial, institusi pesantren memegang tanggung jawab besar dalam mencetak generasi baru yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia.
MUARA ENIM, NUSALY – Tantangan mendidik generasi muda pada era modern tidak lagi sebatas mentransfer ilmu pengetahuan umum di ruang-ruang kelas formal. Di luar dinding sekolah, dinamika perkembangan zaman membawa arus informasi tak terbatas yang rentan mengikis nilai moral dan kepribadian anak jika tidak dibarengi dengan fondasi spiritual yang kokoh. Oleh sebab itu, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan kini diposisikan sebagai pilar strategis penjaga akhlak sekaligus benteng pertahanan karakter bangsa.
Pandangan mengenai krusialnya penguatan moral tersebut melandasi kehadiran Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang dalam Pengajian Akbar Hari Lahir ke-10 Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam. Agenda keagamaan yang dipadukan dengan Haul Ummi Liliyin ke-4 tersebut berlangsung di Desa Sigam, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Minggu (10/5/2026) pagi.
Kehadiran orang nomor dua di Sumatera Selatan ini mendapat sambutan hangat dari ribuan jemaah, wali santri, dan tokoh masyarakat yang memenuhi kompleks pesantren sejak pagi hari. Antusiasme masyarakat desa dalam mensyukuri satu dekade berdirinya lembaga pendidikan ini menjadi cerminan bahwa nilai-nilai keagamaan masih menjadi magnet pemersatu yang kuat di tingkat tapak.
Menjawab tantangan degradasi moral
Saat memberikan arahan di hadapan ribuan pasang mata, Wakil Gubernur Cik Ujang menekankan pentingnya peran pesantren sebagai jangkar pembentuk kepribadian pemuda. Ia menilai, kemajuan fisik sebuah daerah akan kehilangan maknanya apabila tidak diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual masyarakatnya, terutama kelompok usia muda yang akan memegang estafet kepemimpinan pada masa depan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menaruh harapan besar agar Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam dapat terus istiqamah menjalankan misi mulia tersebut. Di tengah gempuran budaya global, pola pendidikan pesantren yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan keluhuran budi pekerti dianggap sebagai model paling ideal. “Kita membutuhkan lembaga yang mampu melahirkan generasi berakhlakul karimah karena merekalah yang akan membentengi moral bangsa ini ke depan,” kata Cik Ujang.
Kerukunan warga modal utama pembangunan
Di samping menyoroti mutu pendidikan, mantan Bupati Lahat ini juga menggarisbawahi pentingnya merawat harmoni sosial. Kerukunan antarwarga yang terlihat nyata dalam pelaksanaan pengajian akbar ini dinilai sebagai modal sosial terbesar bagi jalannya roda pemerintahan. Menurut dia, stabilitas daerah merupakan prasyarat mutlak yang memungkinkan pemerintah fokus mengeksekusi program-program infrastruktur dan kesejahteraan rakyat.
Cik Ujang mengajak segenap jemaah untuk mempererat jalinan silaturahmi dan menolak segala bentuk potensi perpecahan yang dapat mengganggu kedamaian di Sumatera Selatan. “Insya Allah, kalau kita selalu kompak, kita akan terus maju bersama. Saya berharap masyarakat Sumsel selalu hidup rukun dan damai sehingga tercipta persatuan yang kokoh,” tutur Wakil Gubernur penuh optimisme.
Buah konsistensi perjuangan satu dekade
Perkembangan institusi keagamaan di Desa Sigam ini mencatat lembaran sejarah yang inspiratif. Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam KH Dachlan Salim Zarkasyi menceritakan kembali awal mula pendirian pesantren yang harus dirintis dengan segala keterbatasan sarana dari tingkat paling bawah.
Berkat kepercayaan publik yang terus bertumbuh serta dukungan penuh dari masyarakat sekitar, lembaga ini mampu bertahan hingga menginjak usia sepuluh tahun dengan jumlah santri yang terus melonjak saban tahun. Penambahan kapasitas ini dinilai sebagai sinyal positif bagi penguatan syiar Islam di wilayah Muara Enim. “Alhamdulillah, atas doa dan dukungan keluarga serta masyarakat, pesantren yang dirintis dari bawah ini dapat berkembang seperti sekarang. Dengan bertambahnya santri, syiar Islam dan ibadah akan semakin kuat di wilayah kita,” ungkap KH Dachlan.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan siraman rohani dari penceramah asal Bojonegoro, Jawa Timur, KH Anwar Zahid, yang mengupas esensi pendidikan agama sejak usia dini serta pentingnya takzim kepada guru dan orang tua. Segenap unsur Forkopimda Kabupaten Muara Enim dan tokoh lintas sektoral turut mengawal jalannya acara hingga paripurna, menandakan kuatnya sinergi elemen daerah dalam menjaga harmoni dan mutu generasi masa depan. (ADV)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





