Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H
Palembang Berdaya

Drama Musikal Nyanyian Anak Desa Ungkap Sisi Getir Perjalanan Hidup Ratu Dewa

×

Drama Musikal Nyanyian Anak Desa Ungkap Sisi Getir Perjalanan Hidup Ratu Dewa

Sebarkan artikel ini
Drama Musikal Nyanyian Anak Desa Ungkap Sisi Getir Perjalanan Hidup Ratu Dewa
Panggung Jakabaring menjadi saksi harunya Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat menyaksikan masa kecilnya dipentaskan. Dok. Diskominfo Palembang.

Panggung Jakabaring menjadi saksi harunya Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat menyaksikan masa kecilnya dipentaskan. Sebuah refleksi tentang doa orang tua dan integritas yang kini membuka peluang kisahnya diangkat ke layar lebar.

PALEMBANG, NUSALY – Cahaya lampu panggung di Graha Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, perlahan meredup pada Kamis (5/2/2026). Namun, suasana di dalam gedung justru kian panas oleh emosi yang tumpah dari atas pentas. Ratusan pasang mata seperti terpaku, menyaksikan fragmen demi fragmen kehidupan seorang anak desa yang berjuang melawan nasib hingga akhirnya duduk di kursi nomor satu di Kota Palembang.

Lakon bertajuk Nyanyian Anak dari Desa ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Ia adalah rekonstruksi nyata dari memoar karya Sri Maryati yang membedah sejarah hidup H Ratu Dewa. Diperankan dengan sangat apik oleh siswa-siswi SMA PGRI 2 Palembang, drama ini menyeret penonton masuk ke dalam ruang-ruang masa lalu Dewa yang penuh peluh dan air mata, jauh sebelum ia dikenal sebagai pejabat publik.

Di deretan kursi depan, Ratu Dewa sendiri tak mampu menyembunyikan sisi rapuhnya. Berkali-kali ia terlihat menyeka air mata saat melihat masa kecilnya dihadirkan kembali di depan publik. Bagi Dewa, menonton pementasan ini adalah sebuah ziarah batin yang mengingatkannya bahwa jabatan hanyalah terminal, sedangkan perjalanan panjang dari desa itulah yang membentuk jiwanya.

“Jangan hanya melihat posisi saya yang sekarang, tapi lihatlah betapa panjang dan terjalnya jalan yang saya daki dari bawah. Saya tidak akan pernah sampai di sini tanpa kekuatan doa orang tua dan pegangan nilai spiritual,” ujar Ratu Dewa dengan suara yang terdengar sedikit bergetar di hadapan para penonton.

Baca juga  Miris! Sekda Palembang Tinjau SDN 200 dengan Pondasi Miring dan Atap Bocor, Prioritaskan Revitalisasi di 2025

Akar Integritas dan Bisikan Layar Lebar

Pementasan garapan sutradara M Yunus ini secara cerdas menonjolkan satu hal: integritas tidak tumbuh mendadak saat seseorang menjabat, melainkan dipupuk sejak berseragam sekolah. Pesan ini terasa sangat relevan mengingat ribuan penonton yang hadir selama tiga hari pementasan adalah para pelajar SMP dan SMA se-Kota Palembang. Mereka disuguhi teladan hidup tentang bagaimana kepatuhan pada orang tua dan kejujuran bisa menjadi tangga menuju kesuksesan.

Ketertarikan publik yang begitu besar terhadap lakon ini ternyata memicu kemungkinan baru. Dewa, yang sebelumnya sempat menolak tawaran untuk membawa kisah hidupnya ke dunia sinema karena alasan kesibukan, kini mulai goyah. Melihat bagaimana para siswa SMA PGRI 2 Palembang memerankan tokoh-tokoh dalam hidupnya dengan begitu tulus, ia memberikan sinyal hijau bagi para produser film.

“Jika memang kisah ini bisa menjadi pemantik inspirasi bagi lebih banyak orang, mungkin ini saatnya saya mempertimbangkan untuk membawanya ke layar lebar,” tambah Dewa, yang disambut tepuk tangan riuh.

Panggung Pembuktian Karakter Siswa

Di balik harunya cerita, ada kebanggaan besar yang terpancar dari pihak penyelenggara. Ketua YPLP PGRI Kota Palembang, Hasanudin, menegaskan bahwa pementasan di Graha Taman Budaya Sriwijaya ini adalah bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tapi juga kawah candradimuka bagi kreativitas seni. SMA PGRI 2 Palembang seolah ingin menegaskan statusnya sebagai sekolah unggulan nasional yang mampu memproduksi pertunjukan berkelas.

Kepala SMA PGRI 2 Palembang, Herry, menyebut pemilihan sosok Ratu Dewa sebagai tema sentral bertujuan untuk memberikan role model yang nyata. Mereka ingin menunjukkan bahwa sukses itu punya proses, bukan instan.

Bintang kecil dalam acara itu, Fahri, siswa SMP Negeri 12 Palembang yang memerankan Ratu Dewa kecil, tampil dengan kepolosan yang menggetarkan. “Sangat bangga bisa jadi Pak Dewa kecil. Saya ingin sukses seperti beliau nanti,” ucap Fahri pendek, namun penuh semangat.

Baca juga  Menanti Wajah Baru Rusun 26 Ilir di Tangan Menko AHY

Saat tirai panggung akhirnya benar-benar ditutup, ada sebuah kesadaran yang tertinggal di benak penonton. Bahwa di balik megahnya jabatan Wali Kota, ada seorang anak desa yang tak pernah berhenti berjalan dengan restu ibunya. Sebuah cerita yang tampaknya akan segera menemukan panggung yang lebih besar di bioskop-bioskop tanah air.

(desta)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.