Scroll untuk baca artikel
MARHABAN YA RAMADAN LANGKAH EMAS RAIH KEMENANGAN
MEMUAT... 00:00:00
-- Ramadan 1447 H Memuat Tanggal...
Puasa Hari Ke- --

Banner Pemprov Sumsel Ramadhan 1447 H

Banner Ramdan Pemkab OKU Selatan
MotoGP

Marquez dan Pertarungan Melawan Insting di Buriram

×

Marquez dan Pertarungan Melawan Insting di Buriram

Sebarkan artikel ini
Marquez dan Pertarungan Melawan Insting di Buriram
Marc Marquez, Ducati Corse, 2026 Thai MotoGP. Dok. © Gold and Goose

Marc Marquez mengakui belum mampu memacu Ducati GP26 secara otomatis pada hari pertama GP Thailand. Masalah bahu kanan dan adaptasi aerodinamika lawas membuatnya harus bekerja ekstra keras mengejar kecepatan Aprilia.

BURIRAM, NUSALY – Lintasan Chang International Circuit, Buriram, Jumat (27/2/2026), menjadi saksi betapa mahalnya harga sebuah adaptasi bagi seorang Marc Marquez. Sang juara dunia bertahan MotoGP itu harus puas mengakhiri sesi latihan di posisi kedua, namun dengan catatan kaki yang cukup mengkhawatirkan: ia tertinggal 0,4 detik dari Marco Bezzecchi yang tampil digdaya bersama Aprilia.

Bagi Marquez, angka di papan waktu bukanlah masalah utama. Masalah sesungguhnya ada pada “koneksi” antara otak dan motornya yang belum sepenuhnya menyatu. Di usia 33 tahun, dengan sejarah panjang cedera, pebalap asal Spanyol ini mengakui bahwa gaya balapnya masih terasa kaku dan belum mengalir secara natural di atas motor Ducati spesifikasi 2026 miliknya.

“Saya perlu meningkatkan kualitas diri saya sendiri dan terus bekerja pada gaya balap. Saat ini, saya belum bisa memacu motor secara otomatis,” ujar Marquez usai sesi latihan di Buriram.

Kompromi Fisik di Bahu Kanan

Ketidakmampuan Marquez untuk membalap secara otomatis tak lepas dari keputusan teknis yang ia ambil pada awal musim ini. Ia memilih menggunakan paket aerodinamika spesifikasi 2024 pada motornya. Langkah ini bukan tanpa alasan; paket aerodinamika lawas dinilai lebih bersahabat bagi kondisi bahu kanannya yang mengalami cedera serius di GP Indonesia tahun lalu.

Keputusan tersebut merupakan bentuk kompromi antara kecepatan murni dan ketahanan fisik. Marquez sadar betul bahwa penderitaan fisik di masa lalu adalah hantu yang paling ia hindari. Namun, kompromi ini membuatnya harus memikirkan setiap gerakan di tikungan, alih-alih membiarkan instingnya yang bekerja. Hal inilah yang ia maksud sebagai kegagalan membalap secara otomatis.

Baca juga  Marc Marquez Tak Terbendung: Kuasai Sesi Pembuka FP1 MotoGP Aragon 2025

“Saya harus menyesuaikan gaya balap. Mari kita lihat apakah besok saya bisa melakukan langkah maju, karena saat ini Aprilia dan Marco tampak sangat cepat di sini,” tambahnya.

Keberuntungan di Tengah Rintik Hujan

Sesi latihan di Buriram juga memberikan drama tersendiri bagi kubu pabrikan Ducati. Marquez hampir saja terlempar dari zona sepuluh besar menuju kualifikasi kedua (Q2) ketika rintik hujan mulai membasahi sirkuit. Ia mengakui timnya mengambil risiko besar dengan memulai sesi menggunakan ban belakang kompon medium, sebuah strategi yang nyaris menjadi blunder.

Kegelisahan sempat melanda garasi Ducati saat posisi Marquez merosot ke luar sepuluh besar. Beruntung, ia mampu merespons cepat sebelum hujan turun lebih deras. Marquez mengakui bahwa Ducati “beruntung” tidak terjebak dalam kualifikasi pertama (Q1), terutama melihat rekan setimnya, Pecco Bagnaia, yang terpuruk di posisi ke-15.

“Kami beruntung rintik hujan tidak sederas saat sesi Moto2. Tim memberi sinyal untuk masuk pit, tapi pesan itu datang terlambat saat saya sudah berada di titik pengereman Tikungan 12. Namun, begitu saya melihat berada di posisi lima besar, saya mulai tenang,” ungkap Marquez.

Menantang Dominasi Aprilia

Meski berhasil mengamankan tiket Q2, Marquez tidak menutup mata pada ancaman besar dari Marco Bezzecchi dan Aprilia. Karakter ban di Buriram tampaknya lebih berjodoh dengan motor asal Noale tersebut. Bezzecchi terlihat mampu mengeksploitasi performa ban lebih maksimal, sementara Ducati masih meraba-raba titik keseimbangan terbaik.

Bagi Marquez, Sabtu besok bukan hanya soal memburu pole position, melainkan soal menemukan kembali rasa “percaya diri otomatis” yang selama ini menjadi senjata rahasianya. Tanpa itu, ia hanyalah seorang pebalap hebat yang sedang berpikir terlalu keras di atas motornya, sementara rivalnya sedang melesat dalam kebebasan insting.

Baca juga  Sempurna! Marc Marquez Sabet Kemenangan Race MotoGP Assen 2025, Dominasi Akhir Pekan Milik Sang Alien

(dhi)

nusaly.com di WhatsApp

Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.