Pemerintah Kota Palembang membidik potensi raksasa zakat profesi dari belasan ribu tenaga pendidik untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat marginal. Melalui Baznas, akumulasi dana umat ini diarahkan untuk mengubah pola bantuan instan menjadi pemberdayaan ekonomi yang mandiri di tingkat akar rumput.
PALEMBANG, NUSALY – Di tengah keriuhan Ramadhan 1447 Hijriah, sebuah strategi besar untuk menekan ketimpangan sosial sedang disusun dari meja birokrasi di Palembang. Pemerintah Kota Palembang kini menaruh harapan besar pada kantong-kantong zakat profesi para abdi negara, terutama dari sektor pendidikan, sebagai instrumen untuk menarik warga dari jerat kemiskinan.
Langkah ini bukan sekadar urusan pemenuhan kewajiban agama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Wali Kota Palembang Ratu Dewa, saat menghadiri penyetoran zakat maal di hadapan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Palembang, Kamis (5/3/2026), memberikan sinyal keras: zakat harus punya daya ungkit. Target utamanya adalah kelompok grassroot yang selama ini luput dari jangkauan bantuan formal pemerintah.
Dewa ingin ada pergeseran paradigma dalam pengelolaan dana umat. Zakat tidak boleh lagi hanya berakhir menjadi paket sembako yang habis dalam semalam. Fokusnya kini adalah pemberdayaan. Artinya, mustahik atau penerima zakat hari ini harus dibekali kapasitas ekonomi agar kelak mereka bisa berdiri di kaki sendiri dan berganti peran menjadi muzakki atau pemberi zakat.
“Kami menjamin pengelolaan zakat di Baznas ini transparan. Tujuannya satu, meningkatkan taraf hidup warga. Kita ingin zakat jadi solusi permanen, bukan sekadar bantuan konsumtif,” tegas Dewa.
Potensi Raksasa Guru
Sorotan paling tajam dalam gerakan kali ini tertuju pada Dinas Pendidikan. Palembang memiliki aset yang sangat besar, yakni sekitar 14.000 guru, baik berstatus PNS maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Jika belasan ribu tenaga pendidik ini konsisten menyalurkan zakat profesinya melalui lembaga resmi, ledakan dana umat yang terkumpul diprediksi mampu membiayai program pemberdayaan di hampir seluruh kelurahan.
Selama ini, partisipasi zakat di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diakui masih belang-bentang. Padahal, secara regulasi, ASN dengan penghasilan di atas Rp 6 juta per bulan—sudah termasuk tambahan penghasilan pegawai (TPP)—wajib menyisihkan 2,5 persen dari pendapatan mereka. Angka Rp 6 juta ini merujuk pada nisab atau batas minimal zakat profesi yang setara dengan harga 85 gram emas per tahun.
Bagi Dewa, akumulasi dari 14.000 guru ini adalah kunci. Bayangkan jika setiap guru menyisihkan sebagian kecil penghasilannya secara kolektif; dana tersebut bisa mengalir menjadi modal usaha mikro bagi warga miskin, beasiswa bagi anak-anak putus sekolah, hingga perbaikan rumah-rumah kumuh yang tak layak huni di pinggiran Sungai Musi. Sektor pendidikan pun didorong menjadi motor penggerak utama bagi kedaulatan ekonomi umat di Palembang.
Mengejar Target Miliaran
Di sisi lain, Baznas Kota Palembang pun tak main-main dalam mematok target. Ketua Baznas Palembang, Kgs M Ridwan Nawawi, memasang angka Rp 2 miliar yang harus terkumpul hanya dalam satu bulan Ramadhan ini. Optimisme Ridwan bukan tanpa alasan. Berkaca pada tahun 2025, Baznas berhasil meraup Rp 11 miliar dari target semula Rp 10 miliar. Untuk tahun 2026, mereka bahkan berani mematok target tahunan sebesar Rp 14 miliar.
Indikasi keberhasilan itu mulai terlihat. Pada hari pertama gerakan setor zakat dibuka, dana segar senilai Rp 300 juta lebih sudah masuk ke kantong Baznas. Ridwan memprediksi target bulanan Rp 2 miliar tersebut akan tertembus hanya dalam hitungan hari. Tren positif ini menunjukkan bahwa kesadaran berbagi di kalangan pegawai negeri mulai tumbuh, meski tantangan di lapangan tetap tidak mudah.
“Kami optimistis seminggu lagi target Rp 2 miliar untuk Ramadhan bisa tercapai. Tantangan terbesarnya memang masih di sektor pendidikan, khususnya meyakinkan ribuan guru mengenai urgensi zakat profesi ini sebagai solusi sosial bagi warga Palembang,” ujar Ridwan.
Dampak Nyata Lapangan
Catatan di atas kertas memang terlihat mentereng dengan hampir 50.000 penerima manfaat yang telah terbantu oleh Baznas sejak program ini bergulir. Bentuk bantuannya pun mulai bergeser. Selain biaya kesehatan darurat dan pendidikan, kini fokusnya mulai merambah ke penguatan usaha mikro untuk memutus rantai ketergantungan warga pada rentenir.
Khusus sepanjang tahun ini saja, sudah ada sekitar 1.000 orang yang merasakan langsung manfaat dari bantuan sosial harian di kantor Baznas. Gerakan “Ramadan Berkah” yang diusung bukan lagi sekadar program musiman saat menjelang Lebaran, melainkan bagian dari desain besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi umat.
Melalui sinergi antara Wali Kota, belasan ribu guru, dan masyarakat luas, Palembang mencoba membuktikan bahwa zakat bisa menjadi pilar pembangunan yang inklusif. Dana Rp 14 miliar yang ditargetkan tahun ini bukan sekadar deretan angka di pembukuan, melainkan harapan bagi ribuan keluarga miskin untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Keberhasilan gerakan ini nantinya akan diukur dari seberapa banyak warga yang berhasil “naik kelas” dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang sistematis. (desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





