Jurnalis Indonesia kini dipaksa keluar dari zona nyaman. Tak lagi sekadar mengetik berita dari balik meja, program Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026 racikan CIMB Niaga dan IIJ menyiapkan Rp 200 juta untuk membiayai aksi nyata para kuli tinta di lapangan.
JAKARTA, NUSALY – Ada yang terasa janggal, bahkan mungkin memuakkan, dalam wajah media kita hari ini: kita sangat fasih, bahkan terkesan puitis, saat menulis tentang penderitaan rakyat atau kerusakan alam yang kian akut, namun sering kali tak berdaya untuk mengubahnya sedikit pun.
Laporan jurnalistik sering kali hanya berakhir di keranjang sampah digital atau menjadi tumpukan koran bekas yang tak lagi dilirik. Namun, kolaborasi PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) dan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) ingin memutus rantai “impotensi” narasi tersebut.
Lewat program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026, jurnalis kini dituntut menjadi eksekutor, bukan sekadar saksi bisu yang sibuk mencatat.
Inisiatif yang diluncurkan secara resmi pada Senin (9/3/2026) ini adalah antitesis dari tren jurnalisme clickbait yang dangkal.
Di sini, standar Global Reporting Initiative (GRI) menjadi napas utama, memastikan bahwa isu keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan sekadar jargon mentereng di laporan tahunan perusahaan untuk memoles citra, melainkan sebuah kerja nyata yang bisa dipertanggungjawabkan di tingkat tapak.
Akar Kegelisahan
Kenapa harus jurnalis yang dipercaya memegang kendali solusi? Jawabannya sederhana namun fundamental: mereka adalah kelompok yang paling tahu di mana letak “borok” atau luka di daerahnya masing-masing.
Mereka punya akses, mereka punya data, dan mereka punya nurani yang sering kali teruji di lapangan. Gagasan SJF 2026 ini bukan lahir dari ruang rapat yang wangi dan steril di Jakarta, melainkan dari sisa-sisa kegelisahan para jurnalis daerah saat mengikuti rangkaian Media Gathering CIMB Niaga sejak tahun 2024 lalu.
Dalam diskusi-diskusi informal di pinggir jalan hingga pertemuan resmi, para jurnalis ini bicara blak-blakan.
Mereka bicara soal hutan di Kediri yang kian merangas, laut Batam yang kusam oleh polusi industri, hingga pudarnya pamor sagu di Jayapura yang pelan-pelan mulai mengancam isi piring warga lokal akibat ketergantungan pada pangan impor.
Sinyal-sinyal darurat inilah yang ditangkap oleh Hery Kurniawan, Corporate Communications Head CIMB Niaga. Baginya, jurnalis memiliki insting solusi yang tajam jika diberi ruang dan modal untuk bergerak.
“Ide-ide orisinal dari daerah ini sangat berharga karena lahir dari kedekatan emosional. Kami ingin memastikan aksi nyata mereka tidak berhenti di titik terakhir naskah berita, tapi berlanjut menjadi solusi konkret bagi masyarakat sekitar,” tegas Hery.
Uji Nyali Intelektual
Uang memang bukan segalanya, tapi di tengah krisis industri media yang kian mencekik, dukungan total sebesar Rp 200 juta adalah amunisi yang tak main-main. Skemanya kompetitif; dari sekian banyak proposal yang nantinya masuk, hanya 20 individu atau kelompok yang akan dipilih oleh panitia. Mereka masing-masing akan memegang modal kerja sebesar Rp 10 juta untuk menghidupkan ide mereka di lapangan.
Namun, jangan harap dana ini akan cair dengan cara yang mudah. Ada proses “ospek” intelektual bernama Sustainability Masterclass yang wajib dilalui oleh para pemenang terpilih. Di sinilah integritas jurnalis diuji.
Mereka akan berhadapan dengan para pakar keberlanjutan dari CIMB Niaga dan GRI Indonesia untuk membedah kembali proposal mereka agar tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki dampak jangka panjang yang bisa diukur.
Umar Idris, Direktur Eksekutif IIJ, melihat momentum ini sebagai titik balik pembuktian independensi pers. Jurnalis ditantang untuk menggarap empat pilar strategis: Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan, Pemberdayaan Ekonomi, serta Iklim dan Lingkungan.
Ini bukan soal menulis berita pesanan atau menjadi corong perusahaan, melainkan soal bagaimana jurnalis menggunakan modal sosial dan intelektualitasnya untuk menggerakkan perubahan nyata di wilayah yang mereka cintai dan mereka tulis setiap hari.
Aksi di Garis Depan
Pendaftaran program ini resmi dibuka mulai 9 Maret hingga 10 Mei 2026. Bagi para jurnalis yang sudah mulai muak dengan sekadar narasi tanpa aksi, ini adalah kesempatan langka yang harus disambar. Syaratnya cukup jelas: kirimkan proposal ide keberlanjutan Anda melalui tautan resmi bit.ly/JournalismFellowshipCIMBNiaga.
Bukan hanya soal dana implementasi proyek, program ini juga menawarkan “hadiah” yang jauh lebih menantang bagi mereka yang berjiwa petualang.
Tiga jurnalis dengan karya dan proyek yang dianggap paling berdampak akan dikirim langsung ke wilayah Indonesia Timur untuk menjadi relawan dalam kegiatan keberlanjutan CIMB Niaga.
Ini adalah pengalaman “liar” yang jauh dari kenyamanan ruang redaksiโsebuah ujian bagi mereka yang selama ini mengaku peduli pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan di daerah terluar.
Pada akhirnya, melalui visi besar #SekarangUntukMasaDepan, CIMB Niaga dan IIJ sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat besar: apakah jurnalis kita masih memiliki “taring” untuk memperbaiki keadaan yang karut-marut ini?
Ataukah kita sudah terlalu nyaman hanya menjadi penonton di barisan depan? 20 jurnalis pilihan akan diumumkan pada Juni 2026 melalui akun Instagram resmi @jurnalisme.id.
Di sana nanti, kita akan melihat siapa yang benar-benar peduli pada masa depan bumi, dan siapa yang hanya sekadar mencari berita demi menuntaskan tugas redaksi. (*)
** Fellowship Jurnalis 2026**
- Masa Pendaftaran: 9 Maret hingga 10 Mei 2026.
- Target: Jurnalis aktif Indonesia (Bisa individu atau kelompok maksimal 3 orang).
- Dana Dukungan: Rp 10 Juta per ide terpilih (Total 20 kursi pemenang).
- Pilar Fokus: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, dan Lingkungan.
- Langkah Awal: Unduh template proposal dan kirim melalui tautan resmi bit.ly/JournalismFellowshipCIMBNiaga.
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





