Asap pekat karhutla menyelimuti Kota Kayuagung hingga mendorong Indeks Kualitas Udara menembus level paling beracun (AQI 346). Warga mengeluhkan mata pedih dan mengkhawatirkan kesehatan anak-anak sekolah.
KAYUAGUNG, NUSALY.COM — Langit Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Selasa (29/9/2026) sore. Imbas pekatnya paparan jelaga di udara mendorong indeks kualitas udara di ibu kota Kabupaten OKI ini menembus level paling beracun atau berbahaya (Hazardous).
Pantauan langsung NUSALY di lapangan sekitar pukul 17.15 WIB memperlihatkan hamparan asap putih keabu-abuan memotong jarak pandang mendatar di sejumlah kawasan vital. Dari kawasan Tugu Jam hingga sepanjang aliran Sungai Komering, lanskap kota dan barisan pepohonan di seberang sungai tampak memudar tertutup haze.
Kondisi visual di lapangan tersebut sejalan dengan data stasiun pemantau kualitas udara IQAir pukul 18.00 WIB. Indeks Kualitas Udara (AQI) Kayuagung menembus angka 346 US AQI. Polutan utamanya didominasi partikel mikroskopis PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 248,0 µg/m³—artinya telah melampaui 16 kali lipat dari ambang batas aman harian yang ditetapkan WHO (15 µg/m³).
Mata Pedih dan Bau Sangit
Pekatnya asap tidak hanya meredupkan pemandangan kota, tetapi juga mulai mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga yang beraktivitas di luar rumah.
Roni (28), warga Kelurahan Kutaraya yang ditemui saat melintas di sekitar bantaran Sungai Komering, mengaku bau sangit pembakaran lahan terasa kian menyengat menjelang malam.
“Dari jam empat sore tadi udara makin kabur. Mata terasa pedih kalau mengendarai motor tidak pakai helm tertutup, bau sangitnya juga menyengat sekali. Anak-anak di rumah sudah mulai ada yang batuk-batuk,” ujar Roni.
Ia mengaku khawatir dengan kondisi udara yang kian memburuk, terutama terkait risiko penyakit dan kepastian kegiatan belajar anak-anaknya di sekolah besok.
“Kalau udaranya sudah serusak ini, kami khawatir anak-anak sakit. Kami berharap ada imbauan resmi dari pemerintah daerah, apakah sekolah tetap masuk atau dialihkan belajar dari rumah (PJJ) sementara waktu,” tuturnya.
Terperangkap Inversi Suhu
Meningkatnya kepekatan asap pada sore hingga malam hari dipengaruhi oleh fenomena inversi suhu. Ketika suhu permukaan tanah menyejuk saat hari mulai gelap, asap karhutla terperangkap di lapisan atmosfer bawah dan tidak dapat terdispersi ke atas. Akibatnya, partikel racun mengendap persis di pemukiman warga.
Berdasarkan data prakiraan polusi, kualitas udara Kayuagung diperkirakan masih akan bertahan pada kategori berbahaya hingga sangat tidak sehat sepanjang malam nanti, berada di kisaran 346 hingga 281 US AQI.
Ancaman lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kini membayang di depan mata, terutama bagi anak-anak dan lansia. Publik kini menanti langkah cepat Pemerintah Kabupaten OKI dan jajaran terkait dalam memitigasi krisis udara ini, baik dari penyiapan fasilitas kesehatan maupun penyesuaian kebijakan persekolahan.











