Di bawah pendar lampu Masjid Darussaid, Pemerintah Kota Palembang menyerukan agar kemajuan fisik metropolitan tidak meninggalkan akar spiritualitas. Sekretaris Daerah Aprizal Hasyim menegaskan bahwa kejujuran dan keadilan yang diajarkan dalam kitab suci harus menjadi landasan kebijakan publik di Bumi Sriwijaya.
PALEMBANG, NUSALY – Sabtu (7/3/2026) malam, riuh rendah aktivitas urban di jantung Kota Palembang sejenak meluruh dalam kekhusyukan. Di Masjid Darussaid, peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah bukan lagi sekadar agenda tahunan yang lewat begitu saja dalam kalender Ramadan. Bagi Pemerintah Kota Palembang, momen turunnya wahyu pertama ini adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke mana arah pembangunan manusia kita di tengah gempuran modernitas yang kian bising?
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Aprizal Hasyim, hadir di tengah jamaah sholat Isya dan Tarawih dengan membawa kegelisahan yang sama. Mewakili Pemerintah Kota, Aprizal menempatkan Al-Qur’an bukan sebagai objek hafalan semata, melainkan navigasi hidup di tengah hutan beton. Di hadapan ratusan jamaah, ia menyerukan agar nilai-nilai Al-Qur’an ditarik keluar dari ruang masjid menuju praktik nyata di meja-meja pelayanan publik, pasar, hingga kehidupan bertetangga.
Melawan Arus Seremonial
Aprizal Hasyim mengingatkan dengan nada yang lebih dalam bahwa Nuzulul Qur’an hendaknya tidak berhenti pada batas perayaan simbolis atau sekadar mendengar tausiyah. Sebagai pusat gravitasi ekonomi di Sumatera Selatan, Palembang memikul risiko pergeseran nilai sosial yang sangat nyata. Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, bagi Aprizal, adalah langkah pertahanan paling mendasar agar moralitas warga tidak rubuh diterjang dinamika zaman.
“Al-Qur’an itu sumber inspirasi, sumber nilai, sekaligus pedoman paling otentik untuk membangun kehidupan yang berakhlak dan adil,” ungkap Aprizal saat memberikan sambutan. Ia mengajak warga Palembang—yang akar religiusitasnya sudah melegenda—untuk menjadikan kejujuran dan persaudaraan sebagai standar perilaku sehari-hari. Baginya, kota metropolitan akan kehilangan martabat jika hanya mengejar kemajuan materiil tanpa pijakan spiritual yang berakar kuat.
Logika pembangunan yang diusung Sekda ini jelas: karakter kota tidak ditentukan oleh seberapa megah infrastruktur atau seberapa tinggi angka PDRB di atas kertas BPS. Karakter sejati sebuah kota justru tercermin dari sejauh mana keadilan dipraktikkan oleh warganya, mulai dari lingkup keluarga hingga urusan bernegara. Inilah yang ia sebut sebagai esensi pembangunan manusia seutuhnya.
Menyelaraskan Pembangunan Fisik dan Batin
Visi Pemerintah Kota Palembang saat ini memang sedang gencar menyelaraskan setiap inci pembangunan fisik dengan landasan moral yang kokoh. Aprizal Hasyim membeberkan bahwa program-program daerah terus diupayakan agar tidak berjarak dengan nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Ia memimpikan Palembang tumbuh sebagai kota yang tidak hanya gagah secara lahiriah dengan jembatan dan gedung-gedung tinggi, tetapi juga sehat dan damai secara batiniah.
Pesan ini pun diperkuat dengan kehadiran jajaran lengkap Forkopimda Kota Palembang, tokoh-tokoh dari MUI, FKUB, DMI, hingga organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah. Sinergi ini menjadi bukti bahwa urusan moralitas warga adalah tanggung jawab kolektif yang berat. Biarawan birokrasi dan tokoh agama di Palembang harus berjalan dalam satu tarikan napas untuk menciptakan ekosistem kota yang kondusif bagi pertumbuhan generasi mendatang.
Tak kalah penting, kehadiran Ketua BAZNAS Kota Palembang dalam acara tersebut mempertegas bahwa kepedulian pada kelompok rentan tetap menjadi prioritas utama. Nilai keadilan dalam Al-Qur’an diterjemahkan oleh Pemkot Palembang melalui aksi nyata, mulai dari zakat hingga stimulus ekonomi bagi warga yang masih terjepit di sudut-sudut kota. Kehadiran negara di tengah masyarakat diwujudkan bukan dengan pidato, melainkan dengan empati yang terukur.
Cahaya dari Mimbar
Malam peringatan tersebut mencapai puncaknya saat Ustadz Habib Hanif bin Umar Abdul Aziz Shahab menyampaikan hikmah Nuzulul Qur’an. Narasi keagamaan yang dibawakan Habib Hanif menjadi pelengkap sempurna bagi visi birokrasi yang disampaikan Aprizal Hasyim. Kombinasi antara instruksi kepemimpinan dan pencerahan rohani ini diharapkan mampu membekas lama di benak jamaah serta seluruh jajaran perangkat daerah yang hadir.
“Semoga pemahaman kita terhadap Al-Qur’an meningkat dan benar-benar mendorong pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Aprizal. Bagi Pemerintah Kota, masyarakat yang berpegang teguh pada Al-Qur’an secara otomatis akan menjadi warga negara yang patuh hukum, memiliki empati sosial tinggi, dan menjadi motor penggerak bagi kemajuan daerah yang diberkahi.
Peringatan di Masjid Darussaid ini pada akhirnya mengirimkan pesan jernih ke seluruh penjuru kota: Palembang tidak akan membiarkan deru pembangunan menggerus fondasi imannya. Di bawah pengawalan kebijakan yang religius namun tetap humanis, Palembang tetap berkomitmen menjadi kota metropolitan yang beradab, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan bagi seluruh lapisan masyarakatnya tanpa terkecuali. (*/desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





