Laporan terbaru FAO menunjukkan produksi pangan akuatik global menembus 235 juta ton dengan kontribusi kawasan Asia mencapai 76 persen yang digerakkan oleh investasi budidaya berkelanjutan.
BANGKOK, NUSALY – Kawasan Asia kian mengukuhkan posisinya sebagai episentrum sekaligus penopang utama ketahanan pangan akuatik global.
Dekade panjang investasi pada sektor budidaya, inovasi teknologi, dan penguatan rantai nilai berhasil membawa produksi hewan perairan dan alga dunia mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, yakni mencapai 235 juta ton pada tahun 2024. Ekspansi masif sektor akuakultur menjadi motor utama di balik lonjakan produksi tersebut.
Fenomena pertumbuhan ini terekam dalam laporan utama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bertajuk The State of World Fisheries and Aquaculture edisi 2026. Laporan tersebut resmi diluncurkan dalam rangkaian Konferensi Our Ocean di Mombasa, Kenya.
Data FAO memaparkan, Asia mendominasi lanskap perikanan global dengan menyumbang 76 persen dari total produksi dunia. Sepanjang tahun 2024 saja, kawasan Asia memproduksi hingga 179 juta ton hewan perairan dan alga.
Menariknya, hampir tiga perempat dari capaian regional tersebut—atau sekitar 130 juta ton—bersumber dari sektor akuakultur (budidaya), bukan perikanan tangkap alam.
Asisten Direktur Jenderal dan Perwakilan Regional FAO untuk Asia dan Pasifik, Alue Dohong, dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa kepemimpinan Asia dalam produksi pangan perairan mencerminkan konsistensi kebijakan jangka panjang. Rantai pasok yang terbangun dari hulu hingga hilir terbukti mampu merespons tingginya permintaan pasar internasional.
“Seiring dengan terus meningkatnya permintaan global akan pangan perairan, kawasan Asia akan memainkan peran kunci dalam memastikan stabilitas pasokan global sekaligus menopang mata pencaharian jutaan orang,” kata Alue Dohong.
Akuakultur sebagai Poros Utama
Dalam dua dekade terakhir, peta jalan perikanan dunia mengalami pergeseran struktural. Sektor akuakultur meroket menjadi mesin pertumbuhan utama menggantikan perikanan tangkap laut yang mulai menghadapi tantangan kelestarian stok ikan (overfishing).
Antara tahun 2000 hingga 2024, volume produksi hewan perairan budidaya global tumbuh sebesar 70 juta ton, di mana 90 persen dari pertumbuhan tersebut terjadi di Asia dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 5 persen.
Secara spesifik, produksi hewan perairan budidaya di Asia berlipat ganda hingga menyentuh angka 91,5 juta ton pada tahun 2024. Lokomotif pertumbuhan ini dipimpin oleh Tiongkok dengan volume budidaya sebesar 57,6 juta ton.
Namun, kekuatan Asia tidak tunggal; sejumlah negara berkembang seperti India, Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh muncul sebagai produsen utama yang kompetitif di pasar global.
Dominasi Asia bahkan hampir mutlak pada sektor komoditas alga atau rumput laut. Laporan FAO mencatat, Asia memegang 97 persen pangsa pasar dari total 40 juta ton produksi alga dunia pada tahun 2024.
Komoditas ini dinilai strategis karena tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan langsung, melainkan juga sebagai bahan baku industri kosmetik, farmasi, dan bioenergi.
Ketahanan Sosial dan Serapan Tenaga Kerja
Selain kontribusi volume ekonomi, sektor perikanan dan akuakultur di Asia memegang peranan krusial sebagai jaring pengaman sosial ekonomi.
Di tingkat global, sektor ini menghidupi sekitar 600 juta manusia di sepanjang rantai nilai. Dari total 65,3 juta orang yang bekerja langsung di sektor primer (nelayan dan pembudidaya), sebanyak 85 persen di antaranya terkonsentrasi di Asia.
India menempati urutan pertama dengan menyerap 17 juta tenaga kerja langsung, disusul Tiongkok dengan 11 juta pekerjaan. Bangladesh berada di peringkat ketiga dengan 8,1 juta orang, diikuti oleh Indonesia yang mencatatkan 5,2 juta tenaga kerja langsung, serta Vietnam dengan 2,8 juta orang.
Angka-angka ini menegaskan bahwa kebijakan sektor kelautan dan perikanan di Asia berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan dan stabilitas pedesaan pesisir.
Ketergantungan masyarakat Asia terhadap produk perairan juga tercermin dari pola konsumsi harian. Ketersediaan rata-rata pangan akuatik global berada di angka 21,1 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu, Asia mencatatkan angka konsumsi regional tertinggi, yakni 26,3 kilogram per kapita, dan memasok hampir tiga perempat kebutuhan makanan laut global untuk konsumsi manusia. Maladewa menjadi negara dengan tingkat konsumsi tertinggi di dunia dengan angka mencapai 87 kilogram per kapita per tahun.
Dari sisi aktivitas perdagangan, Asia menyumbang 34 persen dari nilai ekspor perikanan global. Tiongkok memimpin rantai ekspor dengan nilai mencapai 20 miliar dollar AS pada tahun 2024, diikuti oleh kekuatan regional lain seperti Vietnam, India, Thailand, dan Indonesia.
Mobilitas perdagangan ini ditopang oleh operasional armada perikanan Asia yang mencakup 3,4 juta kapal, atau setara dengan 72 persen dari total armada dunia yang diperkirakan berjumlah 4,7 juta unit kapal.
Prospek Satu Dekade Ke Depan
Melihat tren pertumbuhan yang stabil, FAO memproyeksikan dominasi Asia tidak akan goyah dalam sepuluh tahun ke depan. Pada tahun 2034, kawasan ini diperkirakan tetap menguasai 72 persen produksi hewan perairan global dengan estimasi laju pertumbuhan sebesar 10 persen.
Kendati demikian, FAO mengingatkan bahwa mempertahankan posisi puncak ini membutuhkan tanggung jawab ekologis yang besar. Transformasi biru harus menjadi komitmen bersama negara-negara produsen di Asia guna mengantisipasi dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan pesisir.
“Mempertahankan kepemimpinan global ini memerlukan investasi berkelanjutan dalam akuakultur yang ramah lingkungan, praktik perikanan yang bertanggung jawab, serta penciptaan rantai nilai yang tangguh terhadap perubahan iklim,” ujar Alue Dohong menekankan arah kebijakan masa depan. ***
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang




