Model bisnis media konvensional sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk menopang dapur redaksi di daerah. Pelaku pers lokal dipaksa segera berubah dan mencari sumber pendapatan baru agar tidak tenggelam oleh arus digitalisasi.
SEMARANG, NUSALY – Industri pers di tingkat daerah sedang menghadapi ujian terberatnya. Pergeseran drastis pola konsumsi informasi masyarakat dan dominasi platform digital global membuat ruang gerak media lokal kian menyusut. Tanpa keberanian merombak model bisnis lama, banyak perusahaan pers di daerah kini berada di ambang kebangkrutan.
Kondisi kritis ini menjadi sorotan utama dalam acara puncak Jateng Media Summit (JMS) 2026 di Hotel Khas Semarang, Kamis (21/5/2026). Forum yang mengusung tema “Peta Jalan Baru Media Lokal Jawa Tengah” ini mempertemukan lebih dari 100 pengelola media dari berbagai wilayah, mulai dari Semarang, Kudus, Solo, Banyumas, hingga kawasan Pantura.
Menariknya, sekitar 30 persen dari peserta yang hadir merupakan pengelola homeless media—sebutan untuk entitas media baru yang memproduksi konten langsung di media sosial tanpa memiliki situs web resmi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa peta persaingan di daerah sudah berubah menjadi sangat cair dan menuntut fleksibilitas tinggi.
Mengubah cara kerja
Ketergantungan pada model bisnis lama, seperti mengandalkan iklan institusi atau anggaran kerja sama daerah, terbukti tidak lagi mencukupi untuk membiayai operasional jangka panjang. Ditambah lagi, sistem algoritma gawai saat ini membuat distribusi konten terjadi secara otomatis, langsung ke tangan pengguna sejak mereka bangun tidur hingga kembali terlelap.
Suwarjono, Inisiator JMS 2026 yang juga CEO PT Arkadia Digital Media Tbk dan Pemimpin Redaksi Suara.com, mengingatkan rekan-rekan seprofesinya untuk tidak lagi menunda adaptasi. Menurut dia, ruang redaksi di daerah harus berani mencoba model pengelolaan baru yang lebih dekat dengan pembaca lokal dan memanfaatkan teknologi digital secara optimal.
“Kalau tidak kita antisipasi sekarang, kita bisa tenggelam. Kita harus segera melakukan cara-cara baru atau model-model baru,” kata Suwarjono di hadapan para pengelola media daerah.
Langkah taktis yang bisa diambil antara lain adalah memperkuat jaringan komunitas dan menciptakan produk turunan di luar naskah berita biasa. Keunggulan kedekatan geografis dengan masyarakat lokal menjadi modal utama yang tidak dimiliki oleh media-media besar dari Jakarta.
Etika kecerdasan buatan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang hadir dalam forum tersebut juga menyatakan komitmennya untuk mendukung keberadaan pers daerah. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jateng, Iwanuddin Iskandar, menyatakan bahwa pihak provinsi siap membuka ruang kolaborasi yang luas bagi semua media lokal.
Iwanuddin bahkan menegaskan, jika ada kepala daerah di tingkat kabupaten atau kota yang sengaja menutup diri atau mempersulit kerja sama dengan media, pihak provinsi siap menerima laporan untuk dievaluasi.
Namun, ia juga menitipkan pesan agar media lokal ikut ambil bagian dalam memerangi banjir hoaks, terutama yang diproduksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti manipulasi video (deepfake) dan rekaman suara tiruan.
“Penggunaan AI dalam produksi informasi tentu perlu ada etika. Yang terpenting adalah tetap menyajikan data yang sebenarnya dan berdasarkan fakta riil di lapangan,” ujar Iwanuddin.
Merawat kualitas informasi
Di luar urusan bisnis dan teknologi, eksistensi media lokal memiliki fungsi krusial sebagai pilar penjaga kualitas ruang publik dan demokrasi di daerah. Tanpa adanya kontrol sosial dari jurnalisme lokal yang sehat, kebijakan di tingkat daerah berpotensi berjalan tanpa pengawasan yang objektif.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, mengingatkan bahwa matinya media lokal bisa membawa kemunduran cara berpikir bagi masyarakat di daerah tersebut. Jurnalisme yang baik bertugas merawat narasi peradaban agar publik tidak sekadar mengonsumsi informasi potongan yang marak di media sosial tanpa kejelasan sumber dan fakta.
“Peradaban tanpa narasi yang baik akan memicu kemunduran pemahaman, kemunduran visi, dan hilangnya nilai-nilai peradaban itu sendiri,” kata Sarif. Ia pun berharap forum ini menjadi titik tolak bagi generasi muda pengelola media di Jateng untuk lebih tangguh menghadapi tantangan ekonomi digital.
Berakhirnya pertemuan di Semarang ini memindahkan beban pembuktian ke meja kerja masing-masing pengelola media. Keberhasilan menerapkan peta jalan baru dalam operasional sehari-hari akan menentukan apakah media lokal mampu tumbuh sebagai bisnis yang sehat atau justru tergilas zaman. (ril/dhi)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





