OGAN ILIR, NUSALY — Ruang diskusi di kompleks PT Sumatera Prima Fibreboard (SPF), Kamis (29/1/2026), menjadi saksi bagaimana diplomasi pemuda dan mahasiswa sanggup memaksa sebuah raksasa industri untuk membeberkan target teknisnya secara terbuka. Forum tersebut bukan sekadar tindak lanjut administratif, melainkan sebuah penagihan janji atas hak napas warga RT 05 Lingkungan III, Kelurahan Timbangan, yang selama ini tergadaikan oleh deru produksi papan serat.
Di bawah pengawalan aparat kepolisian, Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPD PGK) Ogan Ilir berdiri sebagai garda depan bagi keresahan masyarakat. Mereka hadir bukan untuk mendengar retorika, melainkan untuk memastikan bahwa kesepakatan yang ditandatangani sepekan sebelumnya memiliki kaki untuk melangkah. Fokus utama tertuju pada satu bulan krusial: Maret 2026.
Bagi warga Indralaya Utara, Maret bukan sekadar penanda waktu, melainkan garis pembatas antara kepatuhan korporasi atau kegagalan sistemik. Di wilayah yang menjadi ring satu terdampak ini, setiap pagi masih menyisakan ritual menyapu butiran debu halus yang diduga kuat mengandung residu kimia dari proses produksi papan serat.
Dilema Progres
Manajer Produksi PT SPF, Agung Budiyono, mencoba meredam ketegangan dengan memaparkan data teknis. Ia mengeklaim bahwa perusahaan tengah melakukan perombakan besar melalui proyek teknologi pengendali limbah baru yang progresnya kini menyentuh angka 93 persen. Teknologi ini dijanjikan jauh lebih mutakhir untuk menangkap partikulat debu sebelum sempat keluar dari cerobong pabrik.
Namun, dalam kacamata kritis mahasiswa dan pemuda, angka 93 persen tersebut tetaplah angka di atas kertas selama hidung warga masih mencium bau menyengat yang mengganggu kenyamanan. Selisih 7 persen menuju kesempurnaan operasional inilah yang menjadi celah ketidakpercayaan publik. Progres fisik yang besar tidak akan berarti apa pun jika kualitas udara di lapangan tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
Klaim teknologi mutakhir ini sebenarnya adalah respons yang terlambat bagi krisis lingkungan yang telah berlangsung kronis. Sejarah operasional PT SPF di Ogan Ilir sering kali diwarnai oleh keluhan serupa, yang menandakan bahwa solusi jangka pendek selama ini tidak menyentuh akar persoalan mitigasi emisi.
Komitmen Kesehatan
Sisi lain dari forum ini adalah pengakuan implisit perusahaan terhadap potensi risiko kesehatan warga. Manajemen pusat PT SPF dari Jakarta, Dr. Yayan Hadiyat, menjanjikan program pemeriksaan kesehatan gratis yang akan dijalankan dalam satu hingga dua minggu ke depan. Perusahaan juga menyatakan akan mengevaluasi tanggung jawab sosial (CSR) mereka melalui tim khusus yang terjun langsung ke tengah warga.
Bagi kelompok pemuda PGK, janji pemeriksaan kesehatan ini adalah titik krusial yang harus diawasi ketat. Mereka menuntut pemeriksaan tersebut tidak hanya formalitas, tetapi melibatkan dokter spesialis yang mampu mendeteksi dampak paparan partikulat halus (PM2.5) dan jejak formaldehyde. Pengabaian selama ini terhadap pemeriksaan rutin warga telah menciptakan jarak komunikasi yang lebar antara korporasi dan komunitas sekitarnya.
“Jangan menunggu ada korban dulu baru dilakukan cek kesehatan. Kalau bisa secepatnya,” tegas salah seorang warga yang disambut dukungan dari para aktivis mahasiswa. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa hak atas kesehatan adalah hak yang harus dipenuhi saat ini, bukan kompensasi yang diberikan setelah kerusakan terjadi.
Nyali Mahasiswa
Dwi Surya Mandala, Ketua DPD PGK Ogan Ilir, menegaskan bahwa gerakan pemuda tidak akan luluh hanya dengan janji di ruang rapat. Sebagai representasi kaum intelektual muda, PGK memahami bahwa diplomasi harus didukung oleh ancaman aksi yang nyata jika komitmen diingkari. Baginya, Maret 2026 adalah ujian final bagi manajemen PT SPF.
“Hasil forum ini cukup positif, tapi semuanya masih sebatas komitmen. Kami akan menunggu realisasi proyek teknologi yang dijanjikan. Jika pada Maret nanti limbah debu dan bau masih dirasakan warga, maka aksi jilid dua pasti kami lakukan,” tegas Dwi. Nada bicaranya mencerminkan ketegasan pemuda yang tidak mau lagi terjebak dalam jebakan birokrasi perusahaan yang sering kali mengulur waktu.
Strategi yang dimainkan PGK adalah strategi pengawalan jangka panjang. Mereka memposisikan diri sebagai auditor sosial yang akan memantau kualitas udara di pemukiman setiap harinya hingga tenggat waktu yang ditentukan tiba. Komunikasi yang selama ini macet antara PT SPF dan warga, kini dipaksa terbuka melalui desakan para pemuda ini.
Ujian Kredibilitas
Forum diskusi ini menutup babak pertama dari konflik lingkungan di Indralaya Utara. Kehadiran Sat Intel Polres Ogan Ilir dalam memantau jalannya diskusi menunjukkan bahwa isu PT SPF bukan lagi sekadar masalah teknis perusahaan, melainkan potensi konflik sosial yang nyata. Stabilitas wilayah kini bergantung sepenuhnya pada cerobong pabrik dan kepatuhan manajemen terhadap janji mereka sendiri.
Maret 2026 akan membuktikan apakah investasi teknologi yang diklaim perusahaan benar-benar mampu mengembalikan kedaulatan napas warga, atau justru memperpanjang daftar panjang janji yang belum terbayar. Bagi PGK Ogan Ilir, kemenangan bukan terletak pada selesainya forum diskusi, melainkan pada saat udara di teras rumah warga kembali bersih tanpa aroma kimia yang menusuk.
Langkah berani para pemuda, mahasiswa dan warga ini telah meletakkan standar baru dalam pengawasan industri di Ogan Ilir. Mereka membuktikan bahwa di hadapan raksasa korporasi sekalipun, suara rakyat yang didampingi oleh ketajaman riset dan nyali pemuda tetap menjadi kekuatan yang paling disegani.
(aaa)
NUSALY Channel
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di Nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.




