Lonjakan harga cabai merah dan perhiasan emas mengerek angka inflasi tahunan menjadi 2,53 persen namun posisinya masih di bawah rata-rata nasional
PALEMBANG, NUSALY – Laju inflasi di Kota Palembang merangkak naik pada pertengahan kuartal kedua tahun ini. Meski demikian, otoritas penilai ekonomi daerah memastikan kondisi daya beli masyarakat dan stabilitas harga barang di pasar domestik masih berada dalam batas aman yang terkendali.
Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year-on-year) Kota Palembang pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,53 persen. Angka ini dinilai masih berada dalam koridor target sasaran nasional, yakni pada rentang 1,5 hingga 3,5 persen.
Pemerintah daerah kini memfokuskan perhatian pada pemetaan rantai pasok komoditas harian yang mulai mengalami gejolak. Antisipasi dini dilakukan guna mencegah efek domino ketersediaan barang menjelang perubahan musim.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kota Palembang, Isnaini Madani menjelaskan bahwa selain angka tahunan, dinamika fluktuasi harga juga terlihat pada indikator ekonomi lainnya. Inflasi bulanan (month-to-month) menyentuh 0,61 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) bertengger di angka 1,49 persen.
“Jadi pada bulan Mei 2026 terjadi inflasi month-to-month sebesar 0,61 persen, kemudian inflasi year-on-year sebesar 2,53 persen dan inflasi year-to-date sebesar 1,49 persen,” ujar Isnaini, Selasa (2/6/2026).
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama penggerak inflasi bulanan dengan memberikan andil sebesar 0,38 persen. Dinamika cuaca di wilayah sentra produksi ditengarai mengganggu ritme panen petani.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pasokan sayur-mayur segar yang masuk ke pasar tradisional Palembang. Tiga komoditas utama yang paling dominan mendorong lonjakan harga di tingkat pedagang eceran adalah cabai merah, bawang merah, dan tomat.
Tren emas
Jika dilihat dalam ruang lingkup tahunan, potret pemicu inflasi bergeser ke sektor sekunder. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang andil terbesar, yakni mencapai 0,99 persen.
Tingginya andil kelompok ini dipengaruhi oleh pergerakan harga emas perhiasan di pasar global yang terus meroket. Komoditas ini menjadi pilihan investasi alternatif warga yang secara tidak langsung memengaruhi indeks harga konsumen daerah.
“Emas perhiasan masih menjadi komoditas penyumbang inflasi secara year-on-year bulan Mei untuk Kota Palembang,” ungkap Isnaini.
Meski demikian, kelompok pangan tetap membayangi inflasi tahunan dengan kontribusi yang setara, yaitu 0,99 persen. Selain faktor cabai merah, kenaikan harga daging ayam ras dan minyak goreng menjadi pemicu kumulatif yang menekan pengeluaran rumah tangga.
Kuliner lokal
Fenomena menarik juga terjadi pada kelompok penyedia makanan dan minuman atau sektor restoran yang ikut menyumbang andil inflasi sebesar 0,11 persen. Kenaikan harga terdeteksi pada sejumlah kuliner khas andalan Palembang seperti tekwan, model, sate, hingga produk kopi siap saji.
Pemerintah daerah mengidentifikasi bahwa penyesuaian harga menu makanan tersebut tidak semata-mata dipicu oleh mahalnya bahan baku utama. Tekanan biaya produksi justru datang dari komponen penunjang usaha.
Meningkatnya harga operasional seperti kemasan plastik, biaya distribusi, hingga tarif utilitas lainnya memaksa para pelaku usaha mikro dan menengah menyesuaikan harga jual ke konsumen agar bisa mempertahankan margin keuntungan.
Sidak pasar
Menyikapi perkembangan ini, Pemerintah Kota Palembang menyiapkan langkah mitigasi taktis melalui Dinas Perdagangan serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Penguatan kerja sama antardaerah penghasil komoditas kini dipercepat demi menjamin kelancaran arus pasok harian.
Koordinasi lintas instansi juga ditingkatkan untuk mengawasi jalur distribusi logistik strategis agar tidak terjadi praktik penimbunan barang yang bisa memperkeruh stabilitas pasar.
“Kami akan lebih intens berkoordinasi untuk melakukan sidak ke distributor minyak goreng, pemasok daging ayam ras, dan distributor cabai merah,” tegas Isnaini.
Secara makro, posisi ekonomi Palembang relatif solid jika disandingkan dengan wilayah lain. Angka 2,53 persen ini terbukti lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi Provinsi Sumatera Selatan yang mencapai 2,61 persen maupun angka inflasi nasional yang berada di posisi 3,08 persen. (desta)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang





