AIR SUGIHAN, NUSALY – Es krim pernah jadi barang jualan utama di warung Indah Sari. Di Blok E, Desa Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, lokasi warungnya sangat strategis: persis di depan SMP Negeri 5 Air Sugihan dan berdampingan dengan SMAN 2 Air Sugihan. Saban hari, para siswa sekolah menjadi langganan utama jajanan dingin di warungnya.
Namun, urusan jualan es krim itu terpaksa berhenti. Tegangan listrik yang mendadak turun membuat lemari pendingin (freezer) milik Indah gagal mencapai suhu beku. Walhasil, es krim mencair dan rusak sebelum sempat laku. “Kalau es krim, harus dingin betul. Kalau listriknya tidak kuat, dia cepat cair,” ujarnya, Sabtu, 15 Agustus 2026. Ratusan ribu rupiah modal usaha pun melayang.
Indah memutar otak agar usahanya tidak gulung tikar. Ia mengganti dagangan. Kali ini, freezer diisi dengan minuman kemasan seperti Ale-Ale serta minuman dingin lain yang tidak perlu titik beku tinggi. Cara ini membuat usahanya tetap bertahan dan melayani para siswa, meski keuntungan yang didapat tidak sebesar saat berjualan es krim.
Indah dan suaminya, Dedi Rahman, mengadu nasib di Dusun II Simpang Heran, Jalur 29. Rumah sekaligus tempat usaha mereka terpasang listrik PLN berdaya 900 Watt (VA). Dalam kondisi biasa, mereka rutin mengisi ulang stiker token listrik Rp 50 ribu.
Namun, ketika tegangan listrik mulai redup dan tidak stabil, Dedi dan Indah terpaksa main hemat. Kipas angin hanya dinyalakan kalau udara benar-benar panas. Televisi lebih sering dimatikan. Lewat cara darurat ini, token Rp 50 ribu terpaksa dihemat agar bisa bertahan sampai dua pekan. Bagi keluarga kecil ini, masalah listrik bukan cuma soal rumah terang atau gelap, melainkan bagaimana menjaga warung tetap jalan.
Nasib serupa menghimpit Dwi Ahmat Dianto dan istrinya, Arina Widianti, di Desa Rengas Abang, Jalur 30. Warung kelontong mereka mengandalkan kipas angin, kulkas, dan pendingin makanan beku seperti naget dan sosis. Dari pagi sampai siang, setrum di warung Dwi masih menyala normal. Namun begitu matahari terbenam dan memasuki malam, tenaga listrik merosot drastis. “Kalau siang stabil. Masuk magrib tegangan mulai turun,” tutur Dwi.
Saat tegangan drop di malam hari, mesin pendingin makanan beku tak bisa bekerja. Daging ayam dan bahan makanan segar yang disimpan kerap membusuk karena kulkas tak dingin sama sekali. “Se-Air Sugihan tegangannyo lemah galo. Kulkas dak tepakai, ayam kalu ditarok di kulkas jadi bauk,” keluh seorang warga Rengas Abang.
Warga yang punya uang lebih biasanya membeli alat penstabil listrik (stavolt) yang harganya di atas Rp 1 juta per unit. Namun bagi petani, nelayan, dan pedagang kecil bermodal pas-pasan, alat itu terlalu mahal. Mengurangi pemakaian alat elektronik atau mengganti jenis barang dagangan jadi satu-satunya jalan logis agar modal usaha tak habis terbuang.

Kondisi tersebut ironi, mengingat pada Oktober 2017 silam, Pemkab OKI bersama PLN Wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu (SS2JB) sempat mengklaim sukses besar mengentaskan Desa Air Sugihan dari keterbelakangan energi. Lewat proyek pembangunan jaringan yang digenjot sejak 2013—membangun jaringan tegangan rendah dan menengah sepanjang 197.928 meter sirkit untuk 18 desa—Bupati OKI, saat itu Iskandar, mendeklarasikan bahwa Air Sugihan sudah 100 persen terang 24 jam dan warganya telah merasakan kemerdekaan dari kegelapan.
Bahkan, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) OKI, kala itu Man Winardi, mengklaim pasokan energi di wilayah tersebut telah dituntaskan hingga 100 persen. Mahdi Harjo (70), transmigran asal Cilacap sekaligus mantan Kepala Desa Tirta Mulya, saat itu juga sempat bersyukur karena warga tak lagi bergantung pada genset. Namun, klaim “100 persen terang” yang diagungkan sembilan tahun lalu itu kini runtuh. Janji kemerdekaan energi hari ini tinggal kenangan di tengah arus listrik yang megap-megap.
Kecamatan Air Sugihan sendiri bukanlah wilayah kecil. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 19 desa yang dihuni oleh 36.745 jiwa pada 2024. Sebagian besar warga hidup dari bertani, berkebun, melaut, dan menjadi buruh di kawasan industri. Permukiman warga yang tersebar jauh di sepanjang jalur perairan membuat jaringan kabel PLN harus ditarik sangat panjang dari pusat kota.
Manajer PLN UP3 Palembang, Arif Azanny, saat bertemu dengan Pemerintah Kabupaten OKI pada Juni 2026 mengungkapkan alasan utama kenapa listrik di Air Sugihan kerap redup. Listrik untuk seluruh warga Air Sugihan ternyata disalurkan dari Gardu Induk Mariana di Palembang. Jarak kabel listriknya tidak main-main: mencapai hampir 300 kilometer.

Saat dikirim dari gardu utama di Palembang, kekuatan listrik berada di angka standar 20 kilovolt. Namun kekuatan listrik ‘habis’ terbuang di jalan. Begitu sampai di rumah warga Air Sugihan, tenaganya menyusut tinggal 9 sampai 10 kilovolt saja. Artinya, kekuatan listrik yang diterima warga lenyap hingga 50 persen. Itulah alasan kenapa kulkas, freezer, dan mesin pompa air milik warga sering mati suri.
PLN sebenarnya sudah menyusun sejumlah rencana perbaikan, mulai dari membenahi sambungan kabel, menambah jalur pasokan, hingga mengusulkan pembangunan Gardu Induk sendiri di Air Sugihan.
Usaha perbaikan langsung di lapangan sempat dirasakan warga Simpang Heran. Pada 13 Juni 2026, PLN memasang alat penguat listrik (trafo tapping) berkapasitas 100 kVA di Dusun I. Setelah alat itu dipasang, listrik di rumah warga sempat menyala terang dan stabil.
Sayang, kegembiraan warga tak bertahan lama. Alat tersebut rusak dan meledak. Petugas PLN akhirnya mencabut alat itu dan memasang kembali mesin lama. Listrik di rumah warga Dusun I dan Dusun II kembali redup seperti semula.
“Setelah diganti memang di Dusun I lebih stabil. Tapi tidak lama, trafo itu meledak. Akhirnya dipasang lagi trafo lama,” kata Dedi.

Manajer PLN UP3 Palembang Arif Azanny mengakui, sekadar mengganti atau menambah mesin trafo di kampung-kampung tidak akan menyelesaikan masalah utama selama kabel utamanya masih membentang 300 kilometer dari Palembang. Menurutnya, langkah darurat di tingkat hilir itu dampaknya sangat kecil.
“Harapannya dengan penggantian ini, walaupun tidak akan terlalu signifikan sebenarnya, tapi ini upaya-upaya kecil, paling cuma bisa naik setengah kV dengan perbaikan itu,” ujar Arif.
Di sisi lain, pengeluaran warga membengkak. Karena sinyal telepon seluler di Simpang Heran sangat sulit, Dedi dan Indah harus merogoh kocek Rp 250 ribu setiap bulan untuk menyewa sambungan internet (Wi-Fi). Sambungan internet ini sangat penting agar Dedi bisa berkabar dengan anak mereka yang bekerja sebagai buruh di pabrik kertas PT OKI Pulp & Paper Mills, maupun kerabat di Palembang.
Bukan cuma warga yang pusing. Pemerintah Kabupaten OKI saat ini sedang merampungkan proyek sarana air bersih untuk masyarakat Air Sugihan. Proyek air bersih ini mengandalkan mesin pompa listrik untuk menyedot air dan mengalirkan ke rumah-rumah warga.

Camat Air Sugihan, Ardiles, mengaku khawatir saat proyek air bersih ini nanti diluncurkan. Jika listrik PLN masih redup di angka 9–10 kilovolt, mesin pompa air dipastikan tak akan sanggup berputar. Ujung-ujungnya, pasokan air bersih untuk warga terancam tersendat.
Masalah listrik redup yang merusak alat elektronik ini diakui M. Fadly, Kepala Desa Kertamukti yang juga menjabat Ketua Forum Kades se-Kecamatan Air Sugihan. Menurutnya, keluhan warga soal listrik ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun terkait progres perbaikan, Fadly memilih irit bicara dan meminta semua pihak memberi waktu bagi petugas PLN yang sedang bekerja di lapangan.
Saat ini, 36.745 warga di 19 desa di Air Sugihan tengah menanti perbaikan listrik. Harapannya sederhana: bila freezer di warung bisa menyala 24 jam tanpa merusak dagangan, dan air bersih bisa mengalir lancar ke dapur rumah mereka.
Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang



