Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin mulai mengunci rapat celah rekrutmen “diam-diam” oleh perusahaan melalui pengawasan ketat satu pintu guna menjamin hak kerja putra-putri daerah.
SEKAYU, NUSALY – Paradigma lama di mana investasi besar masuk namun warga lokal hanya gigit jari kini tengah dirombak total di Musi Banyuasin (Muba).
Di bawah kendali Bupati HM Toha Tohet dan Wakil Bupati Kiai Abdur Rohman Husen, jargon “Muba Maju Lebih Cepat” bukan lagi sekadar pemanis baliho, melainkan instruksi keras bagi sektor industri untuk memprioritaskan tenaga kerja asal Bumi Serasan Sekate.
Langkah ini menjadi penegasan atas Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2020 yang selama ini sering kali dianggap sebagai macan kertas.
Melalui pengawasan ketat, pemerintah daerah kini memastikan bahwa setiap perusahaan yang mengeruk kekayaan alam di Muba wajib memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan warga setempat melalui penyerapan tenaga kerja secara transparan.
Memutus Rantai Percaloan
Sebagai bukti keseriusan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Muba kini mengambil alih fasilitasi rekrutmen untuk PT Guthrie Pecconina Indonesia.
Tak main-main, lowongan ini dibuka lebar bagi perempuan lulusan SMP untuk mengisi posisi teknis di sektor perkebunan. Strategi “satu pintu” ini sengaja dipasang untuk mematikan ruang gerak calo dan praktik “titipan” yang selama ini merugikan pencari kerja kelas bawah.
Kepala Disnakertrans Muba Herryandi Sinulingga menegaskan bahwa seluruh proses administrasi kini dipusatkan di kantornya.
Tujuannya jelas, yakni transparansi total. Dengan sistem ini, keadilan bagi pelamar kerja dari desa-desa terkecil di Muba lebih terjamin dibandingkan sistem rekrutmen tertutup yang selama ini berjalan di balik pagar tinggi perusahaan.
Keadilan Ekonomi Akar Rumput
Bagi Bupati HM Toha Tohet, kedaulatan warga di tanah sendiri adalah harga mati. Ia menekankan bahwa kemajuan industri tidak akan berarti apa-apa jika angka pengangguran di tingkat lokal masih tinggi.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Abdur Rohman Husen menyoroti pentingnya keterbukaan informasi agar tidak ada lagi rasa saling curiga di tengah masyarakat mengenai proses penerimaan kerja.
Inisiatif jemput bola ini sengaja menyasar kelompok dengan latar belakang pendidikan formal terbatas agar inklusivitas ekonomi benar-benar terasa hingga ke lapisan terbawah.
Dengan persyaratan yang membumi, pemerintah berupaya membuktikan bahwa industri perkebunan bisa menjadi rumah bagi siapa saja warga Muba yang mau bekerja keras, tanpa harus memiliki ijazah tinggi.

Babak Baru Rekrutmen Terbuka
Langkah proaktif ini mendapat dukungan penuh dari legislatif. Anggota Komisi IV DPRD Muba Karan Karnedi melihat pola komunikasi melalui kanal digital “Sobat Kerja Muba” sebagai sebuah terobosan.
Menurutnya, keberanian pemerintah daerah dalam mendikte perusahaan agar patuh pada aturan tenaga kerja lokal adalah napas baru bagi para pencari kerja di daerah.
Tantangan bagi duet Toha-Abdur ke depan adalah menjaga konsistensi pengawasan ini. Memastikan warga lokal tidak lagi sekadar menjadi saksi kemajuan industri di seberang rumah mereka adalah komitmen yang terus diuji.
Namun dengan rekrutmen terbuka ini, Muba sedang mengirim pesan kuat kepada para investor bahwa kesejahteraan warga lokal adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan bisnis di daerah tersebut. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





