Peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2026 di Jakarta menyoroti krisis kemanusiaan jangka panjang yang menjebak ribuan pencari suaka dalam masa tunggu lebih dari satu dekade.
JAKARTA, NUSALY – Ruang batin yang terhenti menjadi realitas yang harus dihadapi oleh ribuan orang asing yang terdampar di Indonesia. Langkah kaki mereka menghentikan pelarian dari kecamuk konflik, namun nasib mereka tertahan dalam jeda waktu yang tidak sebentar. Begitu menapakkan kaki di tanah kepulauan ini, rasa aman yang dicari memang didapat, tetapi masa depan mereka justru mendadak buram karena terperangkap dalam ketidakpastian administratif bertahun-tahun.
Amed, salah satu pengungsi asal Somalia, mengingat kembali bagaimana ia merasa seluruh impian hidupnya membeku saat pertama kali tiba di Indonesia beberapa tahun lalu. Konflik bersenjata di tanah kelahirannya memaksa dia angkat kaki, melintasi samudera demi menyambung nyawa. Kisah senada menggelayuti hidup Amina, perempuan yang harus merelakan seluruh tatanan kehidupan lamanya hancur akibat kekerasan struktural, lalu dipaksa memulai awal baru di sebuah negara yang sama sekali asing baginya.
Potret muram Amed dan Amina bukanlah anomali, melainkan representasi wajah dari sekitar 12.000 jiwa pengungsi dan pencari suaka yang saat ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Mereka datang dari latar belakang bentang geografis yang berbeda, mewakili lebih dari 50 negara yang didera krisis berkepanjangan, mulai dari Afghanistan, Myanmar, Somalia, Sudan, Yaman, Irak, Sri Lanka, hingga Palestina.
Kondisi penampungan di negara transit ini memicu perhatian serius dari badan internasional. UNHCR, Badan PBB untuk Pengungsi, memanfaatkan momentum Hari Pengungsi Sedunia 2026 untuk menyoroti fenomena global terkait krisis pengungsian jangka panjang yang kian kronis.
Berdasarkan data mutakhir dari Laporan Global Trends UNHCR, sebanyak tujuh dari sepuluh pengungsi di seluruh penjuru dunia saat ini hidup terperangkap dalam status pengungsian jangka panjang. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun, bahkan hingga hitungan dekade, jauh dari kampung halaman tanpa kejelasan mengenai solusi berkelanjutan.
Problem mendasar dari krisis kemanusiaan global ini diperberat oleh ketimpangan distribusi tanggung jawab internasional. Sejauh ini, negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah justru memikul beban paling berat dengan menampung 68 persen dari total populasi pengungsi global serta orang-orang yang membutuhkan perlindungan internasional. Distribusi yang tidak merata ini membuat ruang gerak untuk pemulihan hak-hak dasar para imigran menjadi sangat terbatas.
Di Indonesia, realitas serupa jamak ditemui di lapangan, di mana bantuan logistik darurat yang disalurkan lembaga kemanusiaan terbukti hanya mampu menyambung napas instan untuk bertahan hidup, tetapi belum menyentuh aspek rekonstruksi masa depan. Banyak pengungsi yang terpaksa menjalani masa tunggu tanpa aktivitas produktif selama bertahun-tahun, yang secara perlahan mengikis kesehatan mental serta memicu rasa putus asa yang mendalam akibat hilangnya usia produktif.
Sumbangan Komunitas
Melihat kebuntuan sistemik tersebut, sejumlah pengungsi memilih untuk bergerak secara mandiri dengan mengoptimalkan kapasitas personal yang mereka miliki. Dengan ruang gerak yang terbatas, beberapa figur di antara mereka mulai menginisiasi gerakan pemberdayaan berbasis komunitas sebagai strategi untuk melawan keterasingan dan memulihkan martabat kemanusiaan mereka di tengah masyarakat lokal.
Amed kini berhasil mendirikan sebuah organisasi komunitas independen yang dipimpin langsung oleh sesama pengungsi. Wadah kolektif ini bergerak di bidang pendampingan adaptasi sosial budaya serta menyediakan ruang-ruang belajar informal bagi anak-anak pengungsi yang kehilangan akses pendidikan formal. Langkah ini setidaknya mampu meminimalkan risiko putusnya rantai pengetahuan bagi generasi muda pengungsi selama berada di wilayah transit.
Sementara itu, Amina memilih jalur olahraga untuk membangun ketahanan mental kelompok perempuan. Di sela perannya sebagai ibu rumah tangga, perempuan asal Afghanistan ini aktif menjadi pelatih karate bagi anggota komunitasnya. Aktivitas fisik terstruktur ini dirancang bukan sekadar untuk kebugaran, melainkan sebagai instrumen psikologis untuk memulihkan kepercayaan diri, membangun ketangguhan, serta mengikis trauma psikologis pascakonflik.
Inisiatif-inisiatif lokal yang digerakkan oleh kelompok pengungsi ini secara bertahap terbukti mampu melahirkan program pendidikan informal, pelatihan keterampilan kerja dasar, hingga kegiatan olahraga bersama. Gerakan akar rumput tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari kejenuhan masa tunggu, melainkan juga berperan penting dalam membangun kohesi sosial dengan ekosistem masyarakat lokal di sekeliling mereka.
Senior Protection Officer UNHCR Indonesia, Emily Bojovic, menegaskan bahwa membiarkan pengungsi tanpa aktivitas selama bertahun-tahun merupakan bentuk pemborosan potensi kemanusiaan yang merugikan semua pihak. Sebaliknya, ketika kelompok rentan ini diberikan ruang aman untuk menyalurkan keterampilan, melanjutkan studi informal, atau menjadi sukarelawan, gesekan sosial di tingkat bawah dapat ditekan.
“Di UNHCR, kami melihat betapa besar dampaknya ketika para pengungsi punya kesempatan mewujudkan potensi dan berkontribusi bagi komunitas di sekitar mereka,” ujar Emily.
Meskipun terdapat figur publik seperti Amed dan Amina yang berhasil berkembang, UNHCR memberikan catatan bahwa mayoritas pengungsi di Indonesia masih berada dalam kondisi sangat rentan. Sebagian besar dari mereka masih harus berjuang keras setiap hari hanya untuk melampaui tahapan pemenuhan kebutuhan dasar fisik, sebelum bisa memikirkan langkah pemberdayaan ekonomi atau kemandirian sosial yang lebih mapan.
Ruang Inklusivitas
Tahun 2026 ini, peringatan Hari Pengungsi Sedunia memiliki bobot historis yang signifikan karena bertepatan dengan fase 75 tahun berlakunya Konvensi Pengungsi 1951. Dokumen internasional tersebut merupakan kesepakatan kolektif global pasca-Perang Dunia Kedua yang meletakkan dasar hukum internasional bahwa setiap manusia yang melarikan diri dari kecamuk perang, persekusi, dan konflik bersenjata memiliki hak mutlak atas keselamatan fisik serta suaka perlindungan.
High Commissioner UNHCR, Barham Salih, mengingatkan kembali bahwa janji universal yang dibuat 75 tahun silam didesain untuk bertahan melintasi sekat generasi. Bagi hampir 42 juta pengungsi yang tercatat di seluruh dunia saat ini, angkat kaki dari tanah kelahiran bukanlah sebuah pilihan sukarela atau keputusan ekonomi, melainkan satu-satunya jalan rasional yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa dari ancaman kematian.
Di tengah situasi global saat ini, di mana hak-hak pencari suaka kerap mendapat tekanan politik dan pembatasan ketat di berbagai pintu perbatasan internasional, komitmen Indonesia dinilai menjadi oase kemanusiaan yang penting. Perwakilan institusi internasional secara terbuka mengapresiasi kebijakan akomodatif Indonesia yang tetap konsisten membuka ruang perlindungan fisik bagi para pelintas batas yang mencari keselamatan jiwa.
“Bagi ribuan pengungsi yang telah mencari perlindungan di Indonesia selama beberapa dekade, Indonesia telah dan tetap menjadi simbol kemanusiaan,” kata Juru Bicara UNHCR di Indonesia, Hendrik Therik.
Guna mengikis sekat keterasingan sosial yang dialami para pengungsi, sebuah kolaborasi lintas organisasi masyarakat sipil menggelar acara publik bertajuk “One Goal: Safety for All” di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan kolektif yang melibatkan Refu+ure Indonesia, Jesuit Refugee Service Indonesia, Yayasan Cita Wadah Swadaya, Bridges for Hope, serta Islamic Relief Indonesia ini mempertemukan langsung para imigran dengan publik domestik melalui medium kebudayaan.
Ruang interaksi publik ini diisi dengan pameran karya seni rupa, pementasan teater dan musik, bazar produk kerajinan, hingga ruang diskusi terbuka. Melalui aktivitas bersama seperti pertukaran budaya dan dialog informal ini, identitas para pengungsi tidak lagi dilihat secara kaku melalui label status keimigrasian atau paspor hukum mereka, melainkan didekati secara setara sebagai sesama manusia yang memiliki narasi hidup.
Salah seorang pengungsi yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengungkapkan bahwa sapaan sederhana dan keterbukaan dari warga lokal merupakan obat penawar paling mujarab untuk mereduksi rasa terisolasi dari denyut kehidupan normal sehari-hari. Kesempatan untuk duduk bersama, mencicipi kuliner khas, mendengar testimoni langsung, hingga bermain olahraga bersama dinilai menjadi fondasi awal dari terciptanya rasa aman yang seutuhnya di tengah masyarakat.
Langkah inklusif ini menjadi pengingat bersama bahwa hak atas keselamatan tidak boleh berhenti pada dimensi pembebasan fisik dari desingan peluru di negara asal. Keselamatan yang hakiki mencakup ketersediaan ruang sosial yang memanusiakan, di mana setiap individu—tanpa memandang status legal formalnya—memiliki kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, serta menyumbangkan potensinya bagi lingkungan tempat mereka berpijak. (dhi)
NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang




