Kehadiran Ustaz Abdul Somad sebagai khatib Jumat di Masjid Assa’adah Mapolda Sumsel membawa pesan spiritual mendalam bagi korps Bhayangkara. Di tengah momentum Ramadan dan kesibukan pengamanan jelang Idul Fitri, para personel diingatkan bahwa seragam dan kewenangan merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
PALEMBANG, NUSALY – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Assa’adah di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan pada Jumat (13/3/2026). Di antara ratusan personel yang memenuhi saf, Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho bersama jajaran pejabat utama tampak menyimak saksama khutbah yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad.
Kehadiran dai kondang tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan biasa. Di tengah persiapan pengamanan mudik dalam Operasi Ketupat Musi 2026, jajaran kepolisian di Sumatera Selatan seolah mendapatkan penguatan mental untuk kembali meluruskan niat dalam menjalankan tugas negara.
Dalam orasinya di mimbar, Abdul Somad menegaskan sebuah paradigma penting bahwa ibadah tidak boleh dikerdilkan hanya pada ritual shalat atau puasa semata. Menurut dia, seluruh spektrum kehidupan termasuk profesi sebagai penegak hukum bisa bertransformasi menjadi ibadah yang agung jika dijalankan dengan fondasi keikhlasan dan tanggung jawab.
“Setiap pekerjaan bisa menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah dan dijalankan dengan amanah,” tegas Abdul Somad. Pesan ini menjadi pemantik bagi para personel bahwa setiap peluh yang menetes saat bertugas di jalan raya maupun saat menjaga keamanan wilayah memiliki nilai teologis yang tinggi.
Keadilan sebagai Fondasi Tugas
Abdul Somad memberikan penekanan khusus pada profesi aparat penegak hukum. Baginya, menegakkan keadilan adalah bentuk ibadah yang memiliki kedudukan istimewa. Ia pun mengingatkan sebuah janji spiritual bahwa pemimpin yang adil termasuk dalam golongan manusia yang bakal mendapatkan naungan pada hari kiamat kelak.
Namun di balik keistimewaan itu, terselip peringatan keras bagi mereka yang menggenggam otoritas. Jabatan dan kekuasaan bukanlah alat untuk sewenang-wenang terhadap rakyat, melainkan titipan yang sifatnya sementara.
“Jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukan untuk disalahgunakan, tetapi untuk menegakkan keadilan,” ujar Abdul Somad dengan nada yang berwibawa. Kalimat ini seolah menjadi pengingat bagi setiap personel agar tetap berpijak pada integritas, terutama saat dihadapkan pada godaan penyalahgunaan wewenang di lapangan.
Integritas dan Penguatan Spiritual
Respons positif datang langsung dari pucuk pimpinan Polda Sumsel. Irjen Pol Sandi Nugroho menilai pesan-pesan spiritual tersebut sangat relevan dengan dinamika tugas kepolisian yang kian kompleks. Baginya, spiritualitas adalah rem sekaligus mesin bagi personel dalam melayani masyarakat.
“Seragam yang kami kenakan adalah amanah. Tugas yang kami jalankan harus menjadi ladang ibadah untuk melayani masyarakat dan negara,” kata Sandi seusai pelaksanaan shalat.
Senada dengan Kapolda, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya memandang pembinaan rohani sebagai instrumen vital dalam pembangunan sumber daya manusia di tubuh Polri. Penguatan iman diyakini akan melahirkan sosok polisi yang tidak hanya profesional secara teknis, tetapi juga jujur, adil, dan humanis dalam setiap tindakan.
Momentum Ramadan kali ini memang terasa berbeda bagi jajaran Polda Sumsel. Di tengah hiruk-pikuk persiapan pengamanan Idul Fitri yang menguras energi, sentuhan rohani dari Abdul Somad menjadi bekal moral yang krusial. Harapannya, Operasi Ketupat Musi 2026 nanti tidak hanya berjalan sukses secara angka-angka keamanan, tetapi juga menjadi catatan amal baik bagi setiap personel yang bertugas di lapangan. (suherman)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





