Operasi pemberangkatan jemaah haji di Embarkasi Palembang kini memasuki fase krusial dengan total ribuan jemaah yang telah bertolak ke Tanah Suci. Di tengah tingginya intensitas keberangkatan, otoritas haji menekankan pentingnya manajemen stamina bagi para jemaah guna menghadapi cuaca ekstrem serta fase puncak Armuzna yang menuntut ketahanan fisik prima.
PALEMBANG, NUSALY – Gelombang keberangkatan jemaah haji melalui Embarkasi Palembang terus bergulir. Hingga pemberangkatan kelompok terbang (kloter) kedelapan, tercatat sebanyak 3.541 jemaah telah bertolak menuju Tanah Suci. Angka ini mencakup 2.629 jemaah asal Sumatera Selatan, 880 jemaah asal Bangka Belitung, serta didampingi 32 petugas kloter.
Kini, otoritas haji tengah mematangkan kesiapan pemberangkatan kloter sembilan yang dijadwalkan terbang pada Senin (4/5/2026) petang. Fokus utama bukan sekadar pada logistik transportasi, melainkan pada ketahanan fisik jemaah yang akan menghadapi cuaca ekstrem serta fase krusial ibadah haji.
Distribusi Jemaah dan Efisiensi Transit
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kakanwil Kemenhaj) Sumsel, M Arkan Nurwahiddin, menjelaskan bahwa kloter sembilan merupakan gabungan jemaah dari Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara (Muratara), Sumsel, serta jemaah asal Bangka Belitung (Babel).
Ada mekanisme berbeda bagi rombongan asal Negeri Laskar Pelangi tersebut. “Rombongan Babel dijadwalkan langsung bergabung di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang saat keberangkatan, tanpa menginap di Asrama Haji Sumsel seperti jemaah Lubuklinggau dan Muratara,” jelas Arkan. Langkah ini diambil guna mengefisiensikan waktu transit bagi jemaah lintas provinsi tersebut.
Menabung Stamina demi Armuzna
Menghadapi tantangan di lapangan, Arkan memberikan perhatian khusus pada manajemen energi para jemaah. Ia mengingatkan agar para tamu Allah tidak menguras tenaga secara berlebihan untuk ibadah sunnah sebelum fase puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) tiba.
“Fokuslah pada rukun dan wajib haji. Jangan memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah sunnah yang sekiranya menguras fisik secara berlebihan,” tegasnya. Pesan ini menjadi krusial mengingat stamina yang prima sangat dibutuhkan saat fase Armuzna yang merupakan inti dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Kemenhaj Sumsel berharap para jemaah bijak mengatur aktivitas harian mereka. Dengan kondisi cuaca di Tanah Suci yang menantang, kedisiplinan jemaah dalam menjaga hidrasi dan waktu istirahat menjadi kunci agar seluruh prosesi ibadah dapat dijalankan secara sempurna hingga kembali ke Tanah Air. (desta)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





