Scroll untuk baca artikel
Banner HUT Pemprov Sumsel

Ucapan HUT Bhayangkara ke 80 Wakil Ketua I DPRD OKU

Banner HUT Bhayangkara ke 80 Sekda OKU
Laporan Utama

Karhutla Sumsel Mulai Meluas, Gambut Pedamaran Timur Masih Membara

×

Karhutla Sumsel Mulai Meluas, Gambut Pedamaran Timur Masih Membara

Sebarkan artikel ini
Karhutla Sumsel Mulai Meluas, Gambut Pedamaran Timur Masih Membara
Lahan gambut di Pedamaran Timur OKI masih membara di bawah permukaan tanah. Dok. Manggala Agni

Tekanan hidrologis mulai membayangi kawasan rawa dan gambut di awal musim kemarau seiring meningkatnya akumulasi titik api.

PALEMBANG, NUSALY – Musim kemarau yang belum mencapai puncaknya mulai memunculkan tekanan baru di kawasan rawa dan gambut Sumatera Selatan. Di dua kabupaten, kebakaran lahan terus berlangsung dengan karakter yang berbeda, mulai dari bara yang bertahan di bawah permukaan gambut hingga meluasnya area terbakar di kawasan rawa terbuka.

Memasuki bulan Juli, curah hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mulai menunjukkan tren penurunan. Kondisi vegetasi yang semakin kering membuat kebakaran lebih mudah terjadi, sementara api di lahan gambut cenderung sulit dipadamkan karena dapat bertahan lama di bawah permukaan tanah.

Hingga Jumat (3/7/2026), kebakaran lahan masyarakat di Desa Sumber Hidup, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dipastikan telah menghanguskan sedikitnya 6 hektare lahan. Karakter vegetasi lokal yang didominasi semak belukar, belidang, tegakan gelam, dan pakis kering membuat perambatan api di atas permukaan berlangsung cepat sejak pertama kali terdeteksi melalui patroli udara pada Kamis (2/7).

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera Ferdian Kristanto menjelaskan, satgas darat saat ini memprioritaskan strategi pengamanan perimeter untuk membatasi pergerakan kepala api agar tidak melebar.

“Kondisi air di wilayah karhutla saat ini sebenarnya masih memungkinkan untuk mendukung operasi pemadaman. Namun, yang kami khawatirkan adalah embusan angin kencang pada siang hari yang berpotensi memicu jebolnya perimeter sekat api dan membuat arah asap berputar balik,” ujar Ferdian.

Lahan gambut dikenal lebih sulit dipadamkan dibandingkan tanah mineral karena bara api dapat menjalar di bawah permukaan melalui pori-pori tanah hingga beberapa hari bahkan minggu. Kondisi ini membuat kebakaran kerap kembali muncul ke permukaan meski api di atasnya telah terlihat padam. Jika api merambat ke lapisan gambut yang lebih dalam, operasi pemadaman akan memakan waktu jauh lebih lama dan membutuhkan volume air yang jauh lebih besar.

Guna mempercepat penanganan di Pedamaran Timur, kekuatan personel Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI ditambah menjadi tiga regu atau sebanyak 45 orang. Mereka bekerja bersama 60 personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT PSM, aparat TNI, Polri, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Operasi darat ini didukung satgas udara melalui 45 kali siraman air (water bombing) menggunakan helikopter. Hingga Jumat siang, tim gabungan baru berhasil melokalisasi api secara total di area sekitar 1 hektare.

Perluasan di Kawasan Rawa Ogan Ilir
Kebakaran terbaru juga melanda 5 hektare semak belukar di Desa Muaradua, Kecamatan Pemulutan, pada Kamis (2/7) yang membutuhkan waktu pemadaman selama empat jam. Dok. BPBD Ogan Ilir

Perluasan di Kawasan Rawa Ogan Ilir

Indikasi meluasnya ancaman karhutla di kawasan hidrologi Sumatera Selatan juga terlihat di wilayah tetangga. Jika di Pedamaran Timur kebakaran baru mencapai enam hektare, akumulasi kebakaran sepanjang rentang Januari hingga Juni 2026 di Kabupaten Ogan Ilir justru telah menembus angka 65,506 hektare. Data dari kedua kabupaten ini menunjukkan bahwa tantangan penanganan api di lapangan sudah bergerak naik bahkan sebelum memasuki fase kering utama pada Agustus nanti.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir Edy Rahmat memaparkan, luasan lahan yang berhasil dipadamkan total baru mencapai 18,353 hektare. Titik kebakaran tersebut tersebar di tujuh kecamatan rawan, meliputi Indralaya Utara, Pemulutan, Payaraman, Pemulutan Barat, Lubuk Keliat, Tanjung Batu, dan Pemulutan.

Berdasarkan identifikasi BPBD, sebagian besar area rawa yang terbakar merupakan lahan telantar yang tidak diketahui kepemilikannya. Meski demikian, api juga mulai menyentuh area produktif dan konsesi sekunder, termasuk lahan milik PTPN 7 Cinta Manis seluas 5 hektare dan lahan PT Buyung Putra Pangan seluas 0,2 hektare. Kebakaran terbaru juga melanda 5 hektare semak belukar di Desa Muaradua, Kecamatan Pemulutan, pada Kamis (2/7) yang membutuhkan waktu pemadaman selama empat jam.

Maraknya titik api di lahan tanpa pemilik serta rembetan di batas konsesi ini mempertegas pentingnya pengawasan tata ruang dan kesiapan deteksi dini di tingkat tapak. Manggala Agni kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar karena kondisi vegetasi yang mulai mengering sangat rentan memicu kebakaran yang tidak terkendali.

Keberhasilan melokalisasi titik api pada awal musim kemarau ini menjadi fase paling menentukan dalam mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana asap berskala regional seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang