Scroll untuk baca artikel
Banner HUT Pemprov Sumsel

Ucapan HUT Bhayangkara ke 80 Wakil Ketua I DPRD OKU

Banner HUT Bhayangkara ke 80 Sekda OKU
Lingkungan

Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga Diuji Coba di Desa Penyangga Kota Jambi

×

Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga Diuji Coba di Desa Penyangga Kota Jambi

Sebarkan artikel ini
Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga Diuji Coba di Desa Penyangga Kota Jambi
Desa Mendalo Indah mulai mengolah sampah rumah tangga dari sumbernya menggunakan mesin kompos dan aplikasi SIMBA guna kurangi beban TPA Talang Gulo. Dok. UNJA/beritategas.com

Pemanfaatan mesin pengolah kompos dan aplikasi digital di Desa Mendalo Indah menjadi upaya nyata menekan beban pembuangan akhir yang kian kritis.

MUARO JAMBI, NUSALY – Upaya mengelola sampah secara mandiri guna menekan laju timbunan di tempat pembuangan akhir mulai berjalan di wilayah penyangga Kota Jambi. Melalui pemanfaatan teknologi mesin pengolah dan sistem pencatatan digital, penanganan limbah berbasis komunitas di tingkat desa diharapkan mampu menyelesaikan persoalan lingkungan langsung dari rumah tangga.

Tim Pengabdian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi menjalankan program tersebut di Desa Mendalo Indah, Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (1/7/2026). Langkah ini memadukan sistem pengelolaan warga dengan penyediaan fasilitas pengolah untuk mengubah sampah organik menjadi produk bernilai guna.

Dekan FKIP Universitas Jambi Supian menyatakan, kompleksitas persoalan sampah di wilayah pinggiran kota tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan mengandalkan pola konvensional kumpul-angkut-buang. Pertumbuhan populasi di daerah penyangga yang berbatasan langsung dengan pusat kota menuntut adanya solusi yang langsung menyentuh sumber sampah.

Penyediaan peralatan pengolah di tingkat desa ini dirancang untuk mereduksi volume sampah sejak dari permukiman warga. Sampah organik yang selama ini dibuang diproses menggunakan mesin untuk diolah menjadi kompos dan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian setempat.

Ketua Tim Penelitian Universitas Jambi Kuswanto menjelaskan, inisiatif pengabdian masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini menitikberatkan pada peningkatan nilai ekonomi sampah organik. Melalui bantuan teknologi pencacah tersebut, residu organik dipangkas secara signifikan sebelum sempat bergerak menuju tempat pemrosesan akhir.

Dengan pendekatan ini, volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan sejak dari tingkat desa sehingga beban lingkungan ikut berkurang. Dengan berkurangnya sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir, tekanan terhadap daya tampung kawasan hilir ikut menurun sehingga lingkungan sekitar lebih terjaga.

Tantangan Pengelolaan Sampah Masih Besar
Dekan FKIP UNJA, Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., mengatakan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan yang membutuhkan solusi nyata. Dok. UNJA

Tantangan Pengelolaan Sampah Masih Besar

Secara makro, pola penanganan sampah di sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi kendala struktural yang akut. Berdasarkan data evaluasi lingkungan hidup, mayoritas pemerintah daerah masih terjebak pada sistem pengelolaan di tempat pembuangan akhir (TPA) yang bertumpu pada metode pembuangan terbuka (open dumping).

Padahal, regulasi nasional telah mengamanatkan penutupan sistem pembuangan terbuka sejak tahun 2013 dan menggantinya dengan lahan urug saniter (sanitary landfill). Namun hingga kini banyak daerah belum mampu beralih sehingga risiko ekologis di lapangan terus meningkat. Keterlambatan transisi teknologi di TPA ini memperparah potensi longsoran gunungan sampah hingga akumulasi gas metana di bawah permukaan yang memicu kebakaran hebat saat musim kemarau.

Di Provinsi Jambi, wilayah pinggiran seperti Muaro Jambi sangat bergantung pada kapasitas daya tampung TPA Talang Gulo. Ketika beban tempat pembuangan akhir tersebut kian berat, penguatan bank sampah di tingkat desa menjadi salah satu pilihan penyelamat yang rasional.

Teknologi dan Partisipasi Warga

Keberhasilan pendekatan tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga partisipasi masyarakat. Kepala Desa Mendalo Indah Muslim mengakui bahwa pengelolaan mandiri ini menjawab persoalan krusial yang selama ini dihadapi oleh aparatur desa dan komunitas warga.

Kehadiran fasilitas pendukung dari perguruan tinggi tersebut diharapkan menjadi stimulus untuk meningkatkan kedisiplinan kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri.

Selain operasionalisasi infrastruktur fisik, penguatan tata kelola di Desa Mendalo Indah juga didorong melalui konsep ekonomi sirkular yang didukung platform digital berupa aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bank Sampah (SIMBA). Aplikasi ini berfungsi sebagai sistem pencatatan digital yang transparan untuk melacak volume pemilahan sampah yang disetorkan oleh setiap kepala keluarga.

Penerapan teknologi digital di tingkat desa ini ditujukan untuk mengubah kebiasaan warga agar terbiasa melakukan pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari dalam rumah. Melalui insentif ekonomi yang tercatat dalam sistem bank sampah digital, warga didorong untuk melihat material sisa sebagai aset yang dapat diputar kembali, bukan sebagai limbah yang harus segera dibuang.

Jika model integrasi teknologi dan partisipasi masyarakat di Desa Mendalo Indah mampu berjalan secara berkelanjutan, pendekatan serupa berpeluang diterapkan di desa-desa penyangga lain di Sumatera bagian selatan. Namun keberlanjutan dan keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi pendampingan masyarakat, dukungan pemerintah daerah, dan tersedianya pasar bagi kompos yang dihasilkan. (dhi)

NUSALY.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.. Gabung saluran WhatsApp NUSALY.com sekarang