Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dasar di Kayuagung, Ogan Komering Ilir, memicu polemik tajam. Ratusan siswa terpaksa bertahan di ruang kelas melampaui jam pulang Ramadan hanya demi menunggu paket makanan yang terlambat tiba.
KAYUAGUNG, NUSALY – Niat mulia di balik program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berujung sengkarut di lapangan. Di wilayah Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), ratusan siswa sekolah dasar seolah kehilangan hak istirahatnya akibat manajemen logistik yang tidak matang. Pada Sabtu (14/3/2026), proses belajar mengajar yang seharusnya berakhir lebih awal selama bulan suci justru harus molor berjam-jam.
Data yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa para siswa sudah diinstruksikan masuk sejak pukul 07.30 WIB. Namun, hingga jarum jam menyentuh angka 11.43 WIB, pihak sekolah belum memperbolehkan mereka pulang. Alasannya klasik: paket makanan bergizi yang dijanjikan belum juga menampakkan batang hidungnya di gerbang sekolah.
Kondisi ini dinilai menabrak aturan main yang sudah digariskan pemerintah. Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 420/4212/Set.3/Disdik SS/2026, jam belajar siswa selama bulan puasa seharusnya dipangkas demi menghormati ibadah mereka. Namun, alih-alih pulang tepat waktu, para siswa justru “disandera” oleh ketidakpastian distribusi logistik.
Sekolah Mengaku Terjepit Sistem
Menghadapi gelombang protes keras dari wali murid, pihak sekolah tidak tinggal diam. Mereka mengaku berada dalam posisi sulit dan merasa menjadi korban dari ketidaksiapan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di wilayah setempat.
Salah satu pimpinan sekolah di lingkungan komplek pendidikan Kayuagung secara blak-blakan menyebut bahwa pihak sekolah sangat dirugikan oleh pola distribusi yang dinilai amburadul tersebut. Ketidakprofesionalan penyedia jasa logistik telah membuat jadwal akademik yang sudah disusun menjadi berantakan.
“Kami pihak sekolah juga sangat mengeluhkan keterlambatan distribusi ini. Masalahnya bukan cuma di satu sekolah, tapi dialami beberapa sekolah sekaligus di wilayah Kayuagung. Kami sudah mendesak klarifikasi karena distribusi yang tidak tepat waktu ini jelas merugikan jam belajar dan hak istirahat siswa,” ujarnya kepada melalui pesan whatsapp kepada Nusaly.com.
Kekecewaan sekolah kian memuncak karena mereka harus menjadi “benteng” pertama yang menghadapi kemarahan orang tua siswa, padahal kendala teknis sepenuhnya berada di tangan SPPG sebagai penyedia layanan.
Risiko Sistem “Bundling” Bagi Siswa
Persoalan ternyata tidak berhenti pada jam pulang yang molor. Para orang tua juga menyoroti kebijakan pemberian makanan yang dilakukan secara rapel atau bundling untuk kebutuhan tiga hari sekaligus. Di tengah suhu udara yang panas dan kondisi siswa yang sedang berpuasa, kebijakan ini dinilai mengandung risiko tinggi terhadap keamanan pangan.
Banyak wali murid meragukan kualitas dan kesegaran makanan jika harus disimpan lama, apalagi tidak semua rumah siswa memiliki fasilitas pendingin yang memadai. Risiko makanan basi atau terkontaminasi membayangi kesehatan anak-anak mereka.
“Anak-anak kami sedang menjalankan ibadah puasa. Jangan sampai karena ulah oknum penyedia layanan yang abai terhadap regulasi, lantas fisik dan kesehatan anak-anak kami yang jadi korbannya,” keluh salah satu wali murid melalui pesan singkat.
Hingga berita ini diturunkan, tanggung jawab atas manajemen logistik yang carut-marut ini masih ditunggu dari Ketua SPPG wilayah Kayuagung. Penjelasan transparan sangat diperlukan untuk memastikan apakah kejadian ini murni kendala teknis atau ada kegagalan koordinasi yang lebih mendasar dalam pelaksanaan program nasional tersebut. (dhi)
nusaly.com di WhatsApp
Dapatkan kabar pilihan editor dan breaking news di nusaly.com WhatsApp Channel. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





